JURNAL PENELITIAN
PENGARUH TRADISI BUKA LUWUR TERHADAP MASYARAKAT KUDUS DAN
SEKITARNYA DALAM KONTEKS KEBUDAYAAN, KESOSIALAN SERTA KEAGAMAAN
Oleh:
Muhammad Wahyu Asshidiqiy
NIM.1530110003
PROGRAM STUDI ILMU QUR’AN TAFSIR
JURUSAN USHULUDDIN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2015
PENGARUH TRADISI BUKA LUWUR TERHADAP MASYARAKAT KUDUS DAN
SEKITARNYA DALAM KONTEKS KEBUDAYAAN, KESOSIALAN SERTA KEAGAMAAN
Penulis : M.Wahyu Asshidiqiy
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk
memenihi memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah IAD, IBD, ISD dan untuk
mengetahui dan memahami apa itu kebudayaan bukak luwur serta agar lebih tahu
manfaat apa yang terkandung dalam kebudayaan bukak luwur. Kemudian, agar dapat
mengetahui sejarah terjadinya bukak luwur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kebudayaan bukak luwur merupakan tradisi yang sudah lama berjalan, bukak luwur
itu merupakan julukan dari masyarakat terhadap tradisi pembukaan kain penutup
makam sunan kudus atau sering disebut dengan luwur, serta manfaat tradisi
tradisional bukak luwur sangatlah banyak dan manfaat itu sangat menyeluru ke
semua golongan.
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Di
indonesia banyak sekali budaya dan tradisi sehingga indonesia di juluki dengan
negara beragam budaya, itu dikarenakan di indonesia sering di lakukan tradisi
tradisi atau ritual ritual khususnya di jawa, masyarakat memiliki pandangan
hidup atau bisa di sebut juga dengan kosmologi, masyarakat jawa mengenal dua
kosmologi yaitu yang pertama mikro kosmo (litle tradition) yang kedua yaitu
makro kosmo (great tradition).
Kebudayaan
adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang
didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain kebudayaan
mencakup semuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala suatu yang dipelajari dari pola
prilaku yang normative. Artinya mencakup segala cara berpikir. Masyarakat
adalah sekelompok manusia yang hidup bersama dalam suatu periode waktu
tertentu, mendiami suatu daerah, dan akhirnya mulai mengatur diri mereka
sendiri menjadi suatu unit sosial yang berbeda dari kelompok-kelompok lain.
Anggota-angota masyarakat menganut suatu kebudayaan. Kebudayaan dan masyarakat
tidak mungkin hidup terpisah satu sama lain. Di dalam sekelompok masyarakat
akan terdapat suatu kebudayaan. [1]
Secara
harfiah, istilah budaya berasal dari bahasa latin yaitu colere yang
memiliki arti mengelola tanah, yaitu segala sesuatu yang di hasilkan oleh akal
budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah atau tempat tinggalnya atau
dapat pula di artikan sebagai usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan
mempertahankan hidupnya di dalam lingkungan, budaya atau kebudayaan berasal
dari bahasa sansekerta yaitu buddhaya, yang merupakan jamak dari buddhi
( budi atau akal ) di artikan sebagai hal-hal yan berkaitan dengan budi dan
akal manusia.
Manusia
memiliki unsur unsur potensi budaya yaitu pikiran, rasa dan kehendak serta
karya. Hasil keempat potensi budaya itulah yang di sebut kebudayaan. Dengan
kata lain kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dengan cipta manusia mengembangkan kemampuan alam pikir
yang menimbulkan pengetahuan. Dengan rasa manusia menggunakan panca inderanya
yang menimbulkan karya-karya seniatau kesenian. Dengan karsa manusia
menghendaki kesempurnaan hidup, kemulian dan kebahagiaan sehingga berkembanglah
kehidupan beragama. Dengan karya manusia menghasilkan berbagai sarana untuk
membantukemudahan dalam hidupnya.[2]
Jadi
buka luwur merupakan suatu cipta, rasa, karsa, dan karya oleh nenek moyang yang
masih di laksanakan dan di jaga oleh masyarakat Kudus khususnya masyarakat
sekitar kudus.
Buka
luwur juga di jadikan bentuk interaksi sosial antar warga kudus baik pengunjung
maupun yang sudah menetap di sekitar menara kudus, karena sejatinya kedudukan
manusia adalah sebagai makhluk sosial, artinya manusia itu tidak bisa hidup
sendiri, pasti membutuhkan orang lain, dari lahir sampai mati juga tetap
memerlukan bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, diciptakan dengan
kemampuan, keahlian, dan ketrampilan yang berbeda-beda untuk saling melengkapi
dan saling menolong. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup besama dan
tidak bisa hidup sendiri dalm memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia
berinteraksi dengan orang lain. Ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari hari,
semua kegiatan yang di lakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain.
Bayi yang baru lahir perlu interaksi dengan ibu, begitu juga dalam
perkembangannya selalu dibantu oleh anggota keluarga yang lain. Interaksi
manusia dengan manusia tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial
yang selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi
kebutuhannya. Kerjasama yang baik dalam kehidupan akan sangat membantu manusia
dala menjalakkan hidup. Manusia yang satu akan melengkapi manusia yang lain. [3]
Bukan
hanya bentuk interaksi sosial, buka luwur juga menjunjung tinggi keagamaan,
misalnya istigostah, membaca ayat suci Al quran dan lain sebagainya. Karena
sejatinya agama pada prinsipnya adalah memberikan jalan kepada manusia untuk
memperoleh kecintaan dan keridhoan Tuhan, sehingga manusia memperoleh ampunan
dan mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. [4]
2.
Metode Penelitian
a.
Tempat
dan waktu penelitian
Penelitian
dilakukan di sekitar menara kudus atau makam sunan kudus dan penelitian
dilakukan pada tanggal 13 oktober 2015
b.
Teknik
pengambilan data
Ø Pengamatan
Pengamatan
di gunakan untuk mengamati suasana dan keadaan di sekitar menara kudus saat
berlangsungnya tradisi bukak luwur, dan pengamatan juga bertujuan untuk
mengetahui respon dari masyarakat tentang tradisi bukak luwur tersebut
Ø Wawancara
Teknik wawancara di gunakan untuk menanyakan suatu hal hal yang
penting dengan menggunakan pertanyaan pertanyaan yang penting. Disini wawancara
di tujukan kepada juru kunci dan pedagang yang sudah lama berdagang di sekitar
menara kudus.
B.
Hasil Penelitian dan Wawancara
1.
Hasil penelitian
Bukak
luwur merupakan julukan dari masyarakat terhadap tradisi pembukaan kain penutup
makam sunan kudus atau sering disebut dengan luwur, tradisi ini di laksanakan
pada tanggal sepuluh syuro, tapi pembukaan luwurnya di lakukan sebelum tanggal
sepuluh biasanya seminggu sebelum di adakannya acara tersebut, yaitu pada
tanggal 1 Muharram atau satu 1 syuro, tradisi bukak luwur bukan saja hajat dari
yayasan saja tapi masyarakat kudus secara keseluruhan.Memang bukak luwur dulu
dilakukan hanya dari kalangan menara saja tapi sekarang tradisi ini sudah
mendarah daging di diri setiap masyarakat kudus. Itu dapat di buktikan dengan
ketika baru tanggal satu syuro sudah ramai masyarakat Kudus untuk berziarah ke
makam sunan kudus, apalagi kalau sudah memasuki besok pada puncak acaranya
yaitu tanggal 10 syuro pastilah ramainya melebihi tanggal 1 syuro. Konon
katanya tradisi bukak luwur sudah di lakukan sejak ratuan tahun yang lalu itu
terbukti bahwa kain yang menutupi nisan raden sunan kudus selalu dalam keadaan
putih bersih dan wangi. Acara ini merupakan upacara peringatan wafatnya raden
sunan kudus atau disebut juga dengan “khoul” , tetapi menurut penjual yang asli
orang kudus mengatakan bahwa upacara tradisonal bukak luwur bukanlah khoul atau
peringatan wafatnya sunan kudus, sebab kapan dan tanggal wafatnya sunan kudus
belum di ketahui, mengapa di adakan pada tanggal 10 syuro, hal itu disebabkan
mayoritas masyarakat meyakini bahwa pada tanggal tersebut Allah menurunkan ilmu
dari langit ke bumi, sehingga tanggal tersebut di anggap keramat.
Secara
kronologinya, bukak luwur sebenarnya di awali dengan penjamasan atau penyucian
pusaka, jamasan bisa di artikan sebagai suatu perilaku yang menunjukkan pekerti
yang berusaha menjamas (membersihkan) kotoran tubuh, yaitu belenggu hawa nafsu
agar bersih. [5]
pusaka tersebut berupa Keris yang dulunya
milik sunan kudus, biasanya acara penjamasan pusaka biasanya di lakukan pada
akhir bulan besar / Dzulhijjah. Penjamasan atau penyucian pusaka menggunakan
air yang di campur bunga bunga, kata pak riza sebagai juru kunci seperti itu. Biasanya
setelah penjamasan atau penyucian keris, masyarakat yang mempunyai keris
berrebutan mengambil air bekas penyucian pusaka dalam bahasa jawa di namakan
“kolo” setelah mendapatkan air bekas itu, biasanya untuk menyucikan keris yang
di miliki dengan mengharapkan berkah.
Setelah
acara pembukaan luwur pada tanggal 1 muharrom jam 6 pagi dilanjutkan pada
tanggal 5 muharrom yaitu acara Munadhoroh Masa’il Diniyyah biasanya di lakukan
pada jam setengah sembilan munadhoroh masa’il diniyyah merupkan suatu pengajian
atau pembahasan tentang berbagai hukum hukum islam yang terjadi di kalangan
masyarakat atau sering di sebut dengan batsul masa’il yang biasanya di datangi
berbagai masyayikh masyayikh setempat untuk membahas atau memperdebatkan hukum
hukum syaria’.
Setelah
acara munadhoroh masa’il diniyyah biasanya di lanjutkan dengan acara pembacaan
do’a rosul dan terbang papat yang dilaksanakan pada tanggal 9 muharrom, terbang
papat adalah suatu seni terbang yang di lakukan bertujuan untuk menunggu acara
penyembelihan hewan, acara penyembelihan hewan biasanya menyembelih hewan
kerbau dan kambing dan jumlahnya sangatlah banyak, daging dari sembelihan
tersebut biasanya di jadikan lauk dalam nasi jangkrik sedangkan pembacaan do’a
rosul bertujuan agar mendapatkan berkah dari Nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya
di laksanakan acara khotmil qur’an bil goib yang dilaksanakan pada tanggal 9
muharrom biasanya di lakukan sembilan khataman yang di bagi sembilan kelompok
setiap kelompok terdiri dari dua orang, satu orang penghafal alqur’an dan satu
yang lain menjadi penyemak, dan pada saat pelaksanaan khotmil qur’an di butlah
bubur asyuro konon bubur ini memperingati kejadian pada saat zaman Nabi Nuh
saat setelah terjadi musibah banjir bandang sehingga tidak ada nasi. Dan juga
masih banyak acara yang di lakukan pada tradisi bukak luwur seperti santunan
yatama, pembagian berkat serta pengajian umum. Ada kemungkinan
nilai-nilai tersebut belaku sekaligus di dalam lingkungan hidup tertentu, yang
senantiasa dihubungakan dengan konteks kehidupan tertentu.
Pada
malam 10 muharrom di gelar tahlil dan pengajian umum yang di isi oleh K.H Habib
Umar Muthohhar yang mengkaji tentang syariat syariat islam dan tak lupa sejarah
dan kepaandaian dan ketaatan sunan kudus guna agar kepandaian dan ketaatan
beliau bisa di teladani oleh masyarakat, setelah acara pengajian umum, keesokan
harinya yaitu puncak acara bukak luwur yaitu pemasangan luwur baru. Acara
tersebut di awali dengan pembacaan riwayat sunan kudus dan di lanjutkan dengan
pembacaan tasbih bersama sama setelah itu dilakukan pemasangan luwur dan
diakhiri dengan pembacaan tahlil tak lupa yaitu nasi uyah asem tetapi
masyarakat sering menyebut dengan “nasi jangkrik” yaitu nasi yang di masak
tanpa menggunakan santan serta di bungkus dengan daun jati dan diikat dengan
anyaman bambu. Bungkusan nasi tersebut berisi nasi dan lauk, lauknya yaitu
biasanya daging kerbau, menurut masyarakat nasi itu membawa berkah dan konon
nasi uyah asem itu adalah makanan kesukaan raden sunan kudus.
Tradisi
bukak luwur sangatlah bermanfaat bagi berbagai kalangan baik remaja ataupun
yang tua baik penjual maupun pembeli dan juga bermanfaat bagi masyarakat Kudus
khususnya masyarakat sekitar menara yaitu dapat menumbuhkan dan menguatkan
keimanan karena dengan adanya tradisi bukak luwur dapat menyatukan warga Kudus
dan juga dapat meneladani sifat sifat yang sangat berjasa sunan kudus.
2.
Hasil Wawancara
a.
Nama :
Bapak Riza
Pekerjaan: juru
kunci
Beliau
adalah juru kunci dari makam sunan kudus dan sudah lama menjadi juru kunci di
sana, beliau berkata “ tradisi ini memang sudah lama di peringati, banyak acara
yang di laksanakan dalam acara ini yaitu pada tanggal 10 muharrom kalau ingin
lebih jelas tahu datang saja pada tanggal tersebut pasti akan mendapat manfaat
yang sangat banyak” beliau berkata “manfaat dari bukak luwur sangatlah banyak
seperti tingkat shodaqoh meninggat dan bisa di jadikan suatu silaturrohim antar
masyarakat kudus”.
b.
Nama :
Bapak Sumardi
Pekerjaan:
penjual es dawet
Pak
sumardi adalah penjual es dawet di sekitar menara kudus, beliau berjualan di
sana sudah beberapa tahun, tetapi paling beliau suka yaitu ketika sudah mulai
masuk tanggal 1 syuro, karena di tanggal itu adalah sudah mulai acara bukak
luwur oleh sebab itu pengunjung bertambah dan pak sumardi pun terbanjiri berkah
yaitu dagangannya laris manis.
Pak
sumardi berkata “ saya berjualan disini memang sudah lama, memang kalau disini
selalu mendapat berkahnya wali Allah yaitu sunan kudus dengan dagangan saya
selalu habis, tapi yang paling saya suka yaitu ketika sudah memasuki hari hari
bukak luwur seperti sekarang ini, pasti berkahnya lebih besar di banding dengan
hari hari biasa apalagi nanti pada saat puncak acaranya pasti saya sangat
kualahan oleh sebab itu saya bersyukur kepada Allah.
C.
Pembahasan
Dari dua orang yang berbeda
profesinya tetapi sama sama berdomisili di area menara kudus beliau beliau sama
sama mendapatkan manfaat yang baik dari tradisi bukak luwur tersebut, tetapi
dibalik manfaat yang baik pasti ada dampak buruknya yaitu misalnya tingkat
sampah naik, lalu lintas menjadi padat atau bisa di sebut macet, tapi kalau di
teliti dengan ilmu ISD,IBD,IAD pati akan menimbulkan suatu manfaat juga
contohnya ketika sampah meningkat pasti petugas sampah akan mendapat pekerjaan
tambah dan juga gajinya sudah pasti meningkat juga sehigga bisa di gunakan
untuk kebutuhannya sehari hari. Dan ketika lalu lintas menjadi padat pasti
polisi yang tidak ada job pada waktu itu, akan di tambah jobnya untuk mengatur
lalu linas di sekitar menara agar dapat berjalan lancar dan aman.
D.
Kesimpulan
Bukak
luwur merupakan tradisi turun temurun yang sangat positif, karena memiliki
manfaat manfaat baik yang sangatlah banyak. Bukak luwur juga penyatu umat islam
di daerah kudus khususnya baik anak kecil, remaja, muda bahkan orang tua. Oleh
sebab itu tradisi seperti itu harus di lestarikan agar mendapatkan berkah yang
melimpah.
E.
DAFTAR PUSTAKA
Juru kunci
yaitu bapak Riza.
Pedagang es
dawet yaitu bapak Sumardi.
Bruce J. Kohen. Sosiologi Suatu
Pengantar. PT. Bina Aksara Anggota IKPI. 1983.
Endraswara, Suwardi.Agama Jawa.Yogyakarta:
Narasi-Lembu Jawa, 2015.
Aw, Suranto.
Komunikasi sosial budaya.Graha Ilmu, 2010.
Thalib, Muhammad. Anggapan Semua Agama
Benar.Menara Kudus Jogjakarta, 2003.
Lampiran
Ø Interview
Saya :
“ Assalamualaikum pak”
Pak riza : “
iya, waalaikum salam”
Saya :
“ maaf mengganggu waktunya pak, saya mau tanya”
Pak riza : “ iya, dari sekolahan mana?”
Saya :
“ndak pak, saya dari jepara, saya disini hanya berziarah pak.”
Pak riza :
“owh iya, mau tanya apa?”
Saya : “ gini pak, ini kok ramai sekali tidak
seperti biasanya, emangnya mau ada acara apa pak?”
Pak riza :
“ini mau ada acara bukak luwur.”
Saya : “ bukak luwur itu apa pak? Dan biasanya di
adakan tiap hari apa pak?”
Pak riza :
“bukak luwur itu proses pembukaan kain yang menutupi makam dari sunan kudus
untuk di gantikan dengan kain yang baru, dan bukak luwur itu di laksanakan pada
tanggal 10 muharrom atau 10 syuro.”
Saya : “gini pak, tadi kan saya berziarah, tadi kok
kain penutup makam sunan kudus sudah tidak ada pak, padahal kan belum tanggal
10 muharrom ?”
Pak riza :
“emang sejatinya pembukaan luwurnya itu sepuluh hari sebelum 10 muharrom
artinya 1 muharrom sudah di ambil, tapi pemasangannya itu pada tanggal 10
muharrom.”
Saya : “ owh gitu pak.”
Pak riza : “
iya…..”
Saya : “ sejarahnya bukak luwur itu gimana
ya pak? Kok bisa di namakan bukak luwur ?”
Pak riza : “ gini lhoh mas, sejatinya nama bukak
luwur itu julukan dari masyarakat kalau mau tau lebih detail sejarah bukak
luwur, silahkan beli buku tentang sejarah sunan kudus di toko toko pasti ada
sejaahnya lengkap.”
Saya : “ owh iya pak, kalau acara acranya
itu apa apa pak?”
Pak riza : “ acaranya sangat banyak dan bermacam
macam mas, silahkan lihat aja di papan jadwal acara di pintu masuk mas, di situ
ada semua.”
Saya : “ owh iya pak, kalau gitu saya
berterima kasih atas waktunya ya pak.”
Pak riza : “ owh iya mas.”
Saya : “ wassalamualaikum”
Pak rza : “ waalaikum salam”
Ø Dokumentasi

Bapak Riza selaku juru kunci

Bapak Sumardi selaku penjual es dawet

Papan runtutan acara yang di laksanakan saat
buka luwur
[1]
Bruce J. Kohen. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Bina Aksara Anggota IKPI. 1983.
Hal 49-50.
[2]
Aw, Suranto. Komunikasi sosial budaya.Graha Ilmu, 2010. Hal 23-25
[3]
ibid, hal 21-22
[4]
Thalib,Muhammad.Anggapan Semua Agama Benar.Menara Kudus Jogjakarta, 2003.Hal 34
[5]
Endraswara, Suwardi.Agama Jawa.Yogyakarta: Narasi-Lembu Jawa, 2015. Hal 119-120
0 komentar:
Posting Komentar