Psikologi Tafsir



 Image result for sayyid qutb
PARA MUFASSIR DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI: SAYYID QUTHB
oleh: Muhammad Wahyu Asshidiqiy 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respon individu terhadap lingkungan tempat hidup.
Dalam menafsirkan suatu ayat Al-qur’an pasti setiap mufassir satu dengan mufassir yang lain itu berbeda dalam penjelasannya, itu dikarenakan berbagai faktor-faktor psikis yang berbeda-beda pada setiap mufassir, diantara faktor faktor tersebut adalah faktor Biologis, faktor sosial, dan faktor kebudayaan[1]. Itulah yang membuat perbedaan penjelasan antara para mufassir.
Banyak sekali para mufassir yang terkenal yang dikenal sampai saat ini, tetapi penulis lebih memilih untuk membahas lebih dalam tentang Sayyid Quthb dikarenakan Sayyid Quthb sangatlah menarik perjuangannya dalam berdakwah dengan penanya. Yang akan lebih dalam lagi di jelaskan dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana biografi Sayyid Quthb?
2.      Bagaimana analisis sifat Sayyid Quthb?







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Mufassir Sayyid Quthb
Sayyid Quthb nama lengkapnya adalah Sayyid Quthb Husain Syadzili. Dilahirkan pada tahun 1906 di kampung Musyah, daerah Asyut, Egypt dalam keluarga yang kuat mematuhi ajaran agama dan mempunyai kedudukan yang terhormat di kampungnya. Bapak beliu bernama Haji Qutub Ibrahim seseorang yang di segani dan peduli menghidupkan hari-hari kebesaran islam dan mengadakan majlis-majlis jamuan dan tilawah Al-Qur’an di rumahnya terutama pada bulan Ramadhan. Ibunya adalah seorang yang bertaqwa dan mencintai Al-Qur’an, ketika majlis tilawah Al-Qur’an diadakan di rumahnya, ia mendengarkan dengan penuh kekhusyu’an dan beliau telah menghafal Al-Qur’an sejak usianya belum sampai sepuluh tahun. Sayyid Quthb wafat di waktu fajar hari senin 13 Jumadil Awal 1386 atau 29 Agustus 1966 di tiang gantungan setelah didakwahi bersalah oleh “Mahkamah Militer” yang telah dibangun oleh kerajaan revolusi zaman itu, mahkamah ini mempunyai sejarah pengedilan yang hitam dan banyak mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa.[2]
Munurut Al-khindi ada dua puluh lima buku (kitab) Quthb yang di terbitkan. Salah satunya adalah Tafsir Fi Zilalil Qur’an, dalam tafsir tersebut memiliki corak lebih kepada seruan untuk hidup dalam naungan Al-Qur’an, dan juga bertujuan menyatukan umat islam dengan Al-qur’an, membekali orang muslim dengan petunjuk amaliah tertulis menuju ciri-ciri kepribadian islam yang Qur’ani, mendidik orang muslim dengan pendidikan Qur’ani, menjelaskan ciri-ciri masyarakat islami yang dibentuk oleh AlQur’an. Karangan yang lainnya adalah Al-Adallah Al-Ijtimaiyah Fil Islam (keadilan sosial dalam Islam) dalam kitab tersebut, Quthb menjelaskan ada beberapa asas-asas dalam Islam yang dapat menegakkan keadilan, yaitu: kebebasan jiwa dan persamaan kemanusiaan yang semppurna.[3]


B.     Analisis Sifat Sayyid Quthb
1.      Motivasi Sayyid Quthb
Motivasi dalam psikologi berarti rangsangan atau dorongan atau pembangkit tenaga bagi tingkah laku, motifasi juga lebih diartikan menunjuk kepada seluruh proses gerakan atau perbuatan dan juga tingkah laku dan juga termasuk situasi, situasi tersebut yang akan menimbulkan terjadinya tingkah laku.[4]
Dalam kehidupan Sayyid Quthb, beliau menganggap atau memiliki pandangan tentang sistem pemerintahan yang berlaku pada masa tersebut bahwa sesungguhnya sistem pemerintahan itu berjalan dengan sia-sia dan jahiliyah[5]. Oleh sebab itu, Sayyid Quthb termotivasi untuk menulis karangannya yang menjelaskan tentang berbagai sistem pemerintahan dan berkenegaraan yang baik dan benar juga yang sesuai dengan Al-Qur’an. Diantara pandangannya adalah Al-Adallah Al-Ijtimaiyah Fil Islam (keadilan sosial dalam islam) dan Mu’alim Fith-Thariq (petunjuk jalan).
Karangan Sayyid Quthb juga memberikan motifasi terhadap berbagai umat yang telah membacanya, sehingga akan lebih baik dalam memilih pilihan, dapat membentuk kepribadian yang baik dan juga terbentuk suatu masyarakat yang islami yang sesuai dengan Al-Qur’an.

2.      Persepsi Sayyid Quthb
Menurut Slameto persepsi adalah proses yang berkaitan dengan masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, dan pencium.[6]
Ketika Sayyid Quthb berpersepsi, melihat dan mengamati keadaan di dalam dunia ini, beliau berpendapat adanya kezaliman antar bengsa atau antar manusia, mengannggap bahwa negara berkedamaian internasional, padahal dari negara satu dengan negara lain meluncurkan sebuah tindakan tercela, kejahatan, dan kekejaman. Oleh sebab itu beliau memunculkan pemikirannya yaitu Al-Salam Al-Alami Wal Islam (Islam dan Perdamaian Dunia). Dalam karangannya ini Sayyid Quthb mengingatkan bahwa perdamaian dunia haruslah menyeluruh, tidak parsial[7] sebagaimana yang terjadi. Perdamaian seharusnya tidak ada kezaliman antar bangsa atau antar manusia. Damai menurut beliau adalah yang dapat mewujudkan kalimatullah sebagai kenyataan di muka bumi, antara lain: kemerdekaan, keadilan, dan keamanan bagi semua umat manusia.[8]

3.      Emosi Sayyid Quthb
Emosi adalah suatu konsep yang sangat majemuk sehingga tidak dapat satu pun definisi yang diterima secara universal. Emosi sebagai reaksi penilaian (positif atau negatif) yang kompleks[9] dari sitem syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam diri sendiri.[10]
Dalam penafsirannya dalam Tafsir Fi Zilalil Qur’an, Ketika mau menulis tafsirnya, Quthb sebenarnya khawatir, karena ia melihat mustahil menafsirkan secara komprehensif. Lafal-lafal dan ungkapan-ungkapan yang ia tulis, ia rasakan tidak mampu sepenuhnya untuk menjelaskan yang dirasakannya terhadap Al-Qur’an. Quth berkata “Meskipun demikian, saya merasa takut dan gemetar manakala saya mulai menerjemahkan (menafsirkan) Al-Qur’an ini. Sesungguhnya irama Al-Qur’an yang masuk dalam perasaan mustahil bisa saya terjemahkan dalam lafal-lafal dan ungkapan-ungkapanku. Oleh karena itu, saya selalu merasakan adanya jurang yang menghalangi antara apa yang saya rasakan dan apa yang akan saya terjemahkan untuk orang lain dalam Zihilal ini.”[11]
Setelah mengetahui keterangan tersebut bahwa pada saat penafsirannya Sayyid Quthb merasakan emosi takut. Bukan karena takut akan siksaan yang ada didalam penjara tetapi karena khawatir terjemahannya yang ada dalam hati, tidak sesuai dengan tulisannya. Tapi, walaupun begitu, beliau tetap mengungkapkan emosinya sehingga tercipta Zhilalnya tersebut.

4.      Hereditas Sayyid Quthb
Salah satu dasar perbedaan individu adalah latar belakang hereditas masing-masing individu. Hereditas dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan karakteristik individu dari pihak orang tuanya dan pewrisan terjadi melalui proses genetik.[12]
Karena kalangan dari keluarga Sayyid Quthb adalah keluarga yang kuat mematuhi ajaran agama dan mempunyai kedudukan yang terhormat di kampungnya. Bapak beliu juga seseorang yang disegani oleh masyarakat dan ibunya juga hafal Al-qur’an. Oleh sebab itu Sayyid Quthub terlahir sebagai anak yang pintar dan shaleh.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Sayyid Quthb benar-benar tidak lelah dalam berdakwah. Meski ia di dzalimi, disiksa, dan di penjara puluhan tahun, ia tidak pernah putus asa, bahkan dalam penjara, ia torehkan karya yang lebih besar lagi. Ia revisi dan selesaikan Tafsir Fi Zhilalil Qur’an dalam ruang-ruang sel yang sempit. Walau fisiknya dikerangkeng, tetapi pikirannya menembus dan menerobos tembok-tembok penjara dan menembus langit untuk tetap menyampaikan risalah ilahi.
            Oleh sebab itu, Sayyid Quthb adalah orang yang dapat kita panut dalam menjaga kejernihan hatinya, walaupun di dzalimi dan di hina beliau tetap saja berpegang teguh dengan dakwahnya kepada kaum muslimin.













DAFTAR PUSTAKA
Djali, 2007, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara)
Hidayat, Nuim, 2005, Sayyid Quthb Biografi Dan Kejernihan Pemikirannya, (Jakarta: Gema Insani,
Ramayulis, 2009, Psikologi Agama (Jakarta: Kalam Mulia)
Sarwono W Sarwito, 2010, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,)
Shahal Abdul Fatah Al-Khalidi, 2001, Pengantar Memahami Tafsir Fi Zilalil Qur’an Sayid Qutub, (Jeddah: Era Intermedia)
Slameto, 2010, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta)


[1] Djali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hlm. 15
[2] Shahal Abdul Fatah Al-Khalidi, Pengantar Memahami Tafsir Fi Zilalil Qur’an Sayid Qutub, (Jeddah: Era Intermedia, 2001), hlm. 23
[3] Hidayat, Nuim, Sayyid Quthb Biografi Dan Kejernihan Pemikirannya, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 28-29.
[4] Ramayulis, Psikologi Agama (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hlm. 102.
[5] Hidayat, Nuim. Op.cit, hlm. 50.
[6] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 102.
[7] Parsial adalah berhubungan atau merupakan bagian dari keseluruhan
[8] Hidayat, Nuim. Op.cit, hlm. 36.
[9] Kompleks adalah himpunan kesatuan atau kelompok
[10] Sarwono W Sarwito, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 124-125
[11] Hidayat, Nuim. Op.cit, hlm. 27.
[12] Genetik adalah keadaan unggul suatu sifat keturunan yang tampak di dalam penampilan.

0 komentar:

Posting Komentar