PENYAKIT HATI RIYA’ DALAM DIRI
M.
Wahyu Asshidiqiy (1530110003)
BAB
I
PEMBAHASAN
Latar Belakang
Penyakit hati adalah apabila sifat
buruk yang telah tumbuh dan menguasai hati sehingga menyebabkan seseorang
memiliki sifat yang tercela. Penyakit ini disebabkan terlalu mencintai dunia
sehingga menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, selain itu lupa akan Allah
dan tidak pernah membaca Al-qur’an.[1]
Dalam perspektif Islam, penyakit
hati sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela
(al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, emosional dan
seterusnya. Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi,
membagi penyakit hati dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah
(al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah),
frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur),
sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).
Dari sekian banyak penyakit hati,
yang peling sering dialami oleh penulis adalah penyakit hati yang Riya’,
sehingga penulis akan membahas lebih banyak tentang Riya’. Ketika diri manusia
sudah dikuasai sifat Riya maka akan menimbulkan beberapa dampak-dampak negatif
yang akan mengenai orang lain bahkan diri sendiri.
Sebelum diri manusia di hinggapi
sifat Riya’, pasti ada faktor-faktor penyebab dari Riya’ tersebut, juga akan
menimbulkan berbagai dampak dan juga ketika manusia sudah dihinggapi oleh sifat
Riya’ pasti ada solusi untuk menghilangkan sifat tersebut. Semua itu akan
diulas oleh penulis dalam pembahasan dibawah ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengartian
Riya’
Secara bahasa riya adalah memperlihatkan. Jika ada
ungkapan “Sianau riya,” artinya adalah jika orang tersebut menampakkan amal
shaleh karena ingin dilihat dan didengar orang lain. Al-Fahrurrazi berkata,
“Murai’ adalah orang yang menampakkan sesuatu yang tidak ada dalam hatinya,
yaitu mengada-ada kekhusukkannya supaya orang lain melihatnya meyakini dirinya
sebagai orang yang kuat beragama (mutadayyin).” Riya adalah penyakit yang
berbahaya. Ia melanda dalam jiwa-jiwa lemah yang berusaha memanjatkan dan
menaikkan jiwanya melalui tipuan da kepalsuan. Orang yang riya adalah manusia
yang menampakkan sesuatu yang berbeda dengan hatinya.[2]
Riya’ adalah bentuk syirik khafi (syirik rahasia) dan
merupan salah satu diantara dua syirik. Riya’ adalah upaya mencari perhatian
dalam hati makhluk agar mendapatkan kemuliaan dan kedudukan. Mencintai
kedudukan (gila kehormatan) karena didasari hawa nafsu yang mengiringnya
menjadikan banyak orang yang hancur dan tidaklah manusia itu menjadi menjadi
rusak kecuali dirusak oleh dirinya sendiri.[3]
Dalam Al-quran juga sudah menyinggung sifat Riya’ dalam
firmannya surah Al-Nisa’ ayat 142, sebagai berikut:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ
خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ
النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: (Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah) yaitu dengan menampakkan hal-hal yang
berlawanan dengan kekafiran yang mereka sembunyikan dengan maksud untuk
menghindari hukum-hukum keduniaan yang bertalian dengan itu (dan Allah menipu
mereka pula) maksudnya membalas tipuan mereka itu dengan diberitahukannya apa
yang mereka sembunyikan itu oleh Allah kepada nabi-Nya hingga di dunia ini
rahasia mereka terbuka sedangkan di akhirat kelak mereka menerima siksa. (Dan
jika mereka berdiri untuk mengerjakan salat) bersama orang-orang mukmin (mereka
berdiri dengan malas) merasa berat. (Mereka bersifat riya di hadapan manusia)
dengan salat itu (dan tidak berzikir kepada Allah) maksudnya tidak melakukan
salat (kecuali sebentar) disebabkan riya tadi.[4]
Dalam wawancara, penulis sengaja tidak melakuakan
wawancara terhadap tokoh-tokoh terkemuka, melainkan penulis lebih melihat
kalangan menengah kebawah, yakni penulis melakukan wawncara dengan tukang
cendol yang berjualan dijalan-jalan penulis mencoba bertanya apa pendapat mereka
tentang sifat Riya itu tersebut. Penulis mendapatkan pengertian bahwa Riya
merupakan suatu keadaan dimana hati dan lisan itu tidak sesuai, hati berkata A
tetapi lisan berkata B dan juga dapat diartikan memprliahatkan kelebihan
darinya atau bisa disebut dengan pamer.
Sifat-sifat ataupun definisi yang sudah di uraikan
diatas sesuai dengan sifat yang kadang muncul pada diri penulis, bahkan sering
juga muncul. Biasanya sifat tersebut muncul ketika penulis mendapatkan rezeki
tambah. Penulis memiliki usaha penjual kain tenun ikat tradisional Troso
Jepara, biasanya penulis kalau barang dagangannya laku, itu selalu melakukan
dokumentasi atas hasil penjualannya tadi, dan yang lebih parah adalah penulis
memfoto uang keuntungan hasil penjualan kain tersebut. Biasanya penulis kalau
sudah mendapatkan rezeki tambah biasanya juga melakukan perbuatan baik yaitu
mentraktir teman-temanya, tetapi itu semata-mata agar penulis dapat sanjungan.
B.
Faktor-faktor
Penyebab Riya’
1.
Lingkungan sekitar
Penulis biasnya muncul sifat riya’nya ketika lingkungan
sekitar dalam keadaan keterbatasan, sehingga memunulkan inisistif untuk membuat
situasi seakan-akan bergantung kepada penulis.
2.
Kurang mengenal
Allah
Ketika seseorang telah dikuasai oleh sifat riya’ maka
sudah pasti akan lalai dengan adanya Allah, lalai akan ancamannya, dan lalai
akan larangannya. Padahal Allah sudah
berfirman dalam Al-quran bahwa sesungguhnya orang yang beribadah atas dasar
Riya’ maka akan celaka, yaitu dalam surah Al-Ma’un:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ
صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ
الْمَاعُونَ (7)
Artinya: (Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat.). (Yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya) artinya mengakhirkan salat dari waktunya. (orang-orang yang berbuat ria) di dalam salatnya atau
dalam hal-hal lainnya. (Dan enggan menolong dengan barang yang berguna) artinya
tidak mau meminjamkan barang-barang miliknya yang diperlukan orang lain;
apalagi memberikannya, seperti jarum, kapak, kuali, mangkok dan sebagainya.[5]
3.
Cinta kehormatan
dan kedudukan
Bahwa sesungguhnya faktor yang satu ini memang banyak
memunculkan sifat riya’ terhadap kebanyakan orang. Dintaranya yaitu penulis,
karena kecintaan akan kehormatan dan kedudukan sehingga sesorang akan diperbudak
oleh masalah duniawi.
4.
Tamak terhadap
milik orang lain
Salah satu penyebab datangnya sifat Riya’ adalah karena
adanya penyakit hati lainnya, yaitu sifat Tamak. Ibnu Al-jauzi Rahimallah
berkata “Jika sifa Tamak atau rakus dibiarkan lepas kendali maka ia akan
membuat seseorang dikuasai nafsu untuk sepuas-puasnya. Sifat ini menuntut
terpenuhinya banyak hal yang menjerumuskan seseorang ke liang kehancuran”.[6]
Sebagai contoh, ketika penulis melihat teman seperjuangan selalu ramai dalam hal
penjualannya, maka pasti muncul keinginan untuk merebut pelanggannya agar mau
membeli punya penulis.
C.
Akibat-Akibat
yang Ditimbukan Riya’
Almuhashibi menyebutkan
bahwa akibat yang ditimbulkan oleh riya adalah sebagai berikut: [7]
1.
Merasa sombong
dengan ilmu dan amal dan bangga diri dengan agama dan dunia. Tapi terkadang
rasa bangga muncul dari rasa sombong. Namun rasa bangga yang ditimbulkan oleh
riya bercampur dengan rasa tidak senang kalau ada orang lain yang lebih
atas dan merasa bangga jika berada
diatas orang lain.
2.
Berlomba-lomba
mendapatkan harta dan urusan-urusan keduniawian lainnya, ilmu, dan amal sambil
dibarengi rasa bangga diri.
3.
Saling hasud dengan
orang lain dalam ilmu dan amal dan dengki pada orang yang menyainginya.
4.
Merasa tidak senang
melihat lawannya mendapat kedudukan juga jika orang lain mendapatkan pujian
atas keberhasilannya.
5.
Menolak kebenaran
dari orang lain yang menyuruhnya
6.
Merasa lebih
pintar.
D.
Solusi
Untuk Mengatasi Riya’
Manusia itu bukan hanya diliputi naluri dan
hawa nafsu. Tetapi Allah membekalinya dengan naluri akal dan diberi pembimbing
yang mengarahkan selain dibarengi dengan akal manusia pun dibekali ilmu,
Al-qruan, dan As-sunnah. Seorang hamba mampu melawan keburukan dan mengingat
kenikmatan agaung dan abadi yang akan diberikan kepada orang yang memiliki niat
yang bersih dan ikhlas. Selain hal ini, hendaklah pikiran orang ini memikirkan
dua hal yang akan bisa dipakai untuk memerangi naluri, hawa nafsu, dan setan. Dua
hal tersebut adalah bagaimana keadaan dirinya pada saat menghadap Allah? dan
manfaat apa yang dihasilkan oleh riya dalam kehidupan dunia?[8]
Dalam wawancara, penulis mendapatkan penjelasan yang
simpel tentang solusi mengatasi Riya’, yaitu dengan cara selalu merasa bahwa
Allah selalu berada disisnya atau bisa disebut dengan Muroqobah. Seharusnya
ketika penulis mulai merasakan akan adanya sifat riya’ tersebut maka langsung
ingat kepada Allah. ingat akan perintah beserta larangannya. Ketika penulis
merasa tidak merasa senang akan kedudukan orang lain, maka seharusnya menjaga
diri dengan sabar bukan dengan tamak. Ketika penulis mendapatkan rizki yang
lebih maka seharusnya di shodaqohkan. Tapi ketika shodaqoh harus tanpa ada rasa
ingin dilihat orang atau sebagainya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Bahwa sesungguhnya penyakit hati
riya itu dapat menimbulkan berbagai permasalahan dalam dunia bahkan akan di
ancam akan di masukkan ke neraka pada hari kelak. Faktor maupun penyebab dari
sifat riya adalah penyakit hati lainnya juga. Faktor munculnya riya karena
adanya sifat cinta dunia dan juga tamak sedangkan akibat dari sifat riya
tersebut adalah sifat sombong, hasud, iri dan lain-lain.
Kita sebagai manusia pastilah tidak
selalu benar dalam berbagai sikap maupun sifat, maka kita di anjurkan untuk
selalu mawas diri. Yaitu merasa selalu di awasi oleh Allah, selalu ingat akan
ancaman Allah. paling tidak kita merasa di sisi kita ada malaikat yang selalu
mengawasi dan mencatat apa saja yang kita perbuat didunia ini. Setelah kita
mawas diri pasti kita akan terjaga dari berbagai keburukan dan penyakit hati.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu
Jazuli, 2010, Terapi Spiritual; Agar Hidup Lebih Baik Dan Sembuh Dari Segala
Penyakit Batin, (Jakarta: Zaman)
Jalaluddin
Asy-Syuyuthi
Jalaluddin
Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, 2010, Tafsir Jalalain, (Tasikmalaya:
Pesantren Persatuan Islam 91)
Amir
An-Najar, 2002, Mengobati Gangguan Jiwa, (Jakarta Selatan: PT Mizan
Publika).
Imam
Al-Ghazali, Etika Bergaul Makhluk Dengan Sang Khalik Terjemahan Bidayatul
Hidayah, (Surabaya: Ampel Muria)
Amir
Said Azzairi, 2002, Manajemen Kalbu Kiat Sufi Menghentikan Kemaksiatan,
(Yogyakarta: Mitra Pustaka)
Lampiran
·
Interview
Penulis : “ selamat sore pak”
Pak jumadi: “selamat sore juga dek,
mau beli berapa dek?”
Penulis: “pesan satu ya pak, saya mau
tanya pendapat bapak juga”
Pak juamadi: “owh iya tunggu sebentar
ya dek, emangnya mau tanya pendapat tentang apa? Tentang ahok ya dek..”
Penulis: “wah bukan pak, saya mau
tanya tentang penyakit hati pak?”
Pak jumadi: “owh penyakit hati yang
liver itu ya dek?”
Penulis: “ wah bukan juga pak”
Pek jumadi: “lha terus apa dek?”
Penulis: “saya mau tanya penyakit hati
yang ada didalam agama itu lhoh pak, kan ada banyak, tapi saya mau tanya
tentang riya”
Pak jumadi: “owh pamer itu ya”
Penulis: “lhoh bapak kok tau”
Pak jumadi: “gini-gini pernah sekolah
lhoh dek”
Penulis: “iya pak maaf, jadi menurut
bapak riya dalam kalangan bapak itu gimana?”
Pak jumadi: “ya simpel aja dek, ketika
barang dagangan habis dan dapat uang banyak saya sengaja pulang lewat depan
pedangang yang lain yang barang dagangannya masih”
Penulis: “apakah hal seperti itu terus
bapak lakukan?”
Pak jumadi: “ya jelas tidak dong dek,
kadang saya juga sadar akan pelarangan sifat pamer dan kadang juga saya yang di
riya oleh pedagang lain yang dagangannya sudah habis, bagi kami barang sudah
habis duluan itu suatu hal yang sangat luar biasa dek”
Penulis: “owh begitu ya pak”
Pak jumadi: “iya dek”
Penulis: “bapakkan tau sejatinya riya
itu dilarang, bagaimana cara untuk menghilangkan sifat tersebut pak?”
Pak jumadi: “ya saya jawab simpel aja
dek”
Penulis: “ iya apa pak”
Pak jumadi: “ya kita mendekatkan diri
kepada Allah dek dan juga apabila sifat itu mau keluar harus selalu ingat akan
Allah.”
Penulis: “owh begitu ya pak”
Pak jumadi:”iya dek”
Penulis: “terimakasih atas waktunya ya
pak”
Pak jumadi: “sama-sama dek”
Penulis: “jadi, totalnya ini berapa
pak?”
Pak jumadi: “2.500 dek”
Penulis: “ owh ini pak”
Pak jumadi: “iya ini kembalinnya dek”
Penulis: “iya terimakasih pak”
Pak jumadi: “sama-sama”
·
[1] Amir
Said Azzairi, Manajemen Kalbu Kiat Sufi Menghentikan Kemaksiatan, (Yogyakarta:
Mitra Pustaka, 2002). Hlm. 208-209
[2] Amir An-Najar, Mengobati Gangguan
Jiwa, (Jakarta Selatan: PT Mizan Publika, 2002). Hlm. 189
[3] Imam Al-Ghazali, Etika Bergaul
Makhluk Dengan Sang Khalik Terjemahan Bidayatul Hidayah, (Surabaya: Ampel
Muria), hlm. 113.
[4] Jalaluddin Asy-Syuyuthi Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad
Al-Mahalliy, Tafsir Jalalain, (Tasikmalaya: Pesantren Persatuan Islam 91,
2010), hlm. 221
[5] Ibid, hlm. 550
[6] Ibnu Jazuli, Terapi Spiritual; Agar
Hidup Lebih Baik Dan Sembuh Dari Segala Penyakit Batin, (Jakarta: Zaman, 2010),
cetakan 1, hlm. 25.
[7]
Amir An-Najar, op. cit. hlm. 195-196
[8] Ibid, hlm. 197

0 komentar:
Posting Komentar