Al-Mabda’
oleh: M. Wahyu Asshidiqiy
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
ilmu tauhid terdapat aspek pokok adalah keyakinan akan eksistensi Allah Yang
Maha Sempurna. Karena itu, ruang lingkup pembahasan dalam ilmu tauhid yang
pokok salah satunya adalah hal-hal yang berhubungan dengan Allah SWT atau
mabda. Dalam bagian ini termasuk pula masalah takdir.
Islam
mengharuskan seorang muslim untuk mencapai keimanan kepada allah melalui
pembuktian yang masuk akal, inilah yang disebut aqidah aqliyah. Secara bahasa
Mabda adalah pandangan yang mendasar tentang kehidupan, sehingga selain perlu
konsep keyakinan yang mendasari mabda itu sendiri juga perlu adanya
instrumen-instrumen dari mabda tersebut. Instrument yang dimaksud adalah
seperangkat aturan yang terpencar dari aqidah aqliyah, aturan ini menyangkut
solusi terhadap problematika manusia, penjelasan tata cara implementasi solusi
itu sendiri dan pemeliharaan terhadap aqidah serta mengembang mabda keseluruh
dunia.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
al Mabda’?
2.
Bagaimana
pengertian iman kepada Allah SWT?
3.
Bagaimana metode
pembuktian wujud Allah SWT?
4.
Apa pengertian
dan macam-macam takdir?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
pengertian al Mabda’.
2.
Mengetahui pengertian
iman kepada Allah SWT.
3.
Mengetahui metode pembuktian wujud Allah SWT.
4.
Mengetahui pengertian dan
macam-macam takdir.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Al-Mabda’
Secara bahasa Mabda adalah pandangan yang mendasar
tentang kehidupan, sehingga selain perlu konsep keyakinan yang mendasari mabda
itu sendiri juga perlu adanya instrumen-instrumen dari mabda tersebut.
Mabda
merupakan istilah bahasa Arab yang dapat diterjemahkan sebagai ideologi, namun
bukan ideologi dalam pengertian yang sempit, sebagaimana dalam pandangan
sekularisme. Menurut Muhammad Muhammad Ismail yang disebut dengan mabda
adalah aqidah/keyakinan yang digali dari proses berfikir, yang kemudian
melahirkan sistem atau aturan-aturan. Menurut definisi ini, sebuah
aqidah/keyakinan disebut sebagai mabda (ideologi) jika memiliki dua syarat: (1)
bersifat aqliyyah; (2) memiliki sistem/aturan.
2.
Iman Kepada Allah SWT
Iman kapada Allah adalah yang paling pokok dan
mendasari seluruh ajaran islam, dan ia harus diyakinkan dengan ilmu yang pasti
seperti ilmu yang terdapat dalam kalimat syahadat “laa ilaaha illallaah”. Ialah
yang menjadi awal, inti dan akhir dari seluruh seruan islam sebagaimana wasiat
Rasulullah SAW kepada sahabat Muadz ketika beliau mengutus sahabat tersebut ke
negeri Yaman:”sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab,
maka hendaklah engkau mengawali dakwahmu kepada meraka, penyaksian bahwa tidak
ada tuhan melainkan Allah”. Kemudian jika mereka telah taat kepadamu maka
ajarkan lagi kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atasnya sholat lima waktu (N.Razak,
1980:128).
Qur’an sebagai sumber pokok ajaran islam telah
memberikan pedoman kepada kita dalam mengenal Allah SWT. Demikian pula
dikemukakannya bukti-bukti yang pasti tentang kekuasaanNya bersama seluruh
sifat keagunganNya. Pengetahuan manusia kepada Allah SWT adalah sejalan dengan
sejarahnya sendiri. Itulah pengetahuan yang pertama kali diterima oleh manusia
pertama, Adam a.s. yang diajarkan oleh penciptanya, dan pengetahuan itulah yang
kemudian diajarkan kepada anak cucunya. Bahkan manusia telah menyatakan imannya
kepada Allah SWT sejak dia di alam arwah. Allah berfirman
شَهِدْنَا بَلَى قَالُوا بِرَبِّكُمْ لَسْتُ أَ
“Bukankah
Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab:”Betul(Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi”.(Q.S al-A’raf:172)
Dalam sejarah purba, manusia jahiliah juga mengenal Allah.
Mereka mengerti bahwa yang menjadikan alam semesta dan yang harus disembah
ialah Dzat yang bernama Allah itu. Qur’an mengungkapkan:
تَتَّقُونَ ۚ أَفَلَا فَقُلْ اللَّهُ فَسَيَقُولُونَ لْأَمْرَ يُدَبِّرُ وَمَنْ الْحَيِّ مِنَ الْمَيِّتَ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتِ
Katakanlah!
Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
berkuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup
dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dan yang hidup, dan siapakah yang
mengatur segala uusan? Maka mereka menjawab:”Allah” maka katakanlah :”Mengapa
kamu tidak bertakwa (kapadaNya)?”.
“Dan
jika kamu Tanya mereka itu (orang-orang jahiliah), siapakah yang menjadikan
langit dan bumi niscaya mereka menjawab, yang menjadikannya ialah Tuhan Yang
Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui’.(arti Q.S Zukhruf : 9)
Demikianlah pengakuan orang-orang jahiliah. Tetapi
mengapa mereka juga menyembah berhala? Mereka menjawab bahwa patung-patung dan
berhala-berhala yang mereka sembah itu adalah semata-mata berfungsi sebagai
makelar-makelar dalam menyembah Allah dan untuk mendekatkan mereka kepadaNya.
Dalam kehidupan yang dianggap modern
sekarang banyak kita jumpai hal-hal yang hakikatnya sama dengan keadaan manusia
jahiliah dahulu. Menurut cara yang primitive, mereka menyembah patung-patung,
berhala-berhala, pohon-pohon, gunung-gunung, sungai-sungai dan sebagainya
dengan dalih sebagai perantara dalam menyembah Allah SWT. Dalam kehidupan
orang-orang yang menamakan dirinya modern cara itu Nampak pada
penghormatan-penghormatan pada monument-monumen, keris-keris pusaka,
tongkat-tongkat keramat, makam-makam dan sebagainya. Sebagian mereka mengambil
dukun-dukun sebagai tempat konsultasi tentang berbagai masalah pribadi, social
dan ekonomi, politik, karir dan kedudukan-kedudukan penting dalam Negara dan
pemerintahannya. Bahkan ada yang mengambil burung perkutut sebagai tempat
konsultasinya. Semua itu hakekatnya ialah perbuatan syirik, mempersekutukan
Allah SWT, dosa yang paling besar.
Islam memandang perbuatan semacam
itu sebagai perbuatan hina akibat kebodohan. Bukankah manusia telah diciptakan
pada martabat yang paling tinggi diantara seluruh makhluk di alam semesta ini?
Dengan perbuatan syirik, berarti dia telah menjatuhkan maryabat kemanusiaannya
yang tinggi. Sebab dia menghambakan diri kepada alam. Suatu aniaya kepada diri
sendiri. Itulah sebabnya manusia harus langsung kepada Tuhan tanpa menggunakan
makelar-makelar sebagai perantara. Karena itu, islam mengajarkan tauhid sebagai
sumber hidup dan kehidupan yang benar.
3.
Metode Pembuktian Wujud Allah
Untuk
membuktikan wujud Allah, Al-Qur’an menunjukan suatu metode yaitu dengan
menyelidiki kepada kejadian manusia dan alam semesta ini adalah bukti-bukti
kebenaran dan wujud Allah SWT. Filosuf Ibnu Rusyd berkata: “untuk mebuktikan
wujud Allah itu ada dua cara :
a.
Dinamakan dalil
al-‘Inayah (the proof of providence).
b.
Dinamakan dalil
Al- Ikhtira’ (the proof of creation).
Bahwa
sesungguhnya tentang kesempurnaan struktur susunan alam semesta ini menunjukan
adanya suatu tujuan tertentu pada alam. Dan tidaklah mungkin bahwa alam semesta
yang kita lihat itu, sempurna struktur kejadianya adalah suatu barang yang
wujudnya kebetulan, tapi pasti telah ditentukan tujuanya, bahwa ia adalah
natijah daripada hikmah ketuhanan yang sangat dalam. Dengan mengenal dalil
kedua, kesimpulan bahwa semua yang ada (maujud) yang kita lihat ini adalah
makhluk (dijadikan) utamanya pada makhluk-makhluk hidup, di mana manusia sangat
lemah untuk dapat menciptakan walaupun seekor binatang kecil.
Ibnu
Rusyd menunjukan itu memberikan arti bahwa ada yang telah menjadikanya seluruh
mkhluk ini. Dalam Qur’an surat Al-Haj, Ayat 73, Allah berfirman : “Hai manusia,
telah ditunjukan satu perumpamaan. Sebab itu dengarkanlah ! sesungguhnya yang
kamu seru selain Allah, tidak akan bias membikin lalat, walapun mereka bersatu
menjadikanya”. Qur’an Surah Al-Haj, ayat
73, Allah berfirman: “Hai manusia, telah ditunjukkan satu perumpamaan. Sebab
itu dengarkanlah! Sesungguhnya yang kamu seru selain Allah, tidak akan bias
membikin lalat, walaupun mereka bersatu menjadikannya.” Qur’an selalu mendesak
kepada manusia untuk memikirkan betapa kejdian alam semesta dengan segala
isinya. Betapa langit yang tak terbatas, perjalanan bintang-bintang dan
planet-planet yang serba teratur, perputaran dan pergantian musim, angina yang
berhembus dan yang berarak tiada hentinya. Kemudian manusia disuruh menukikkan
pandangannya kebumi betapa ia telah dihamparkan penuh dengan serba ragam
kekayaan, gunung-gunung yang mencakar langit, makhluk nabati dan hewani yang
serba macam jenis telah diciptakan berjodoh-jodohan. Dan akhirnya kepada
manusia sendiri, betapa ia telah diciptakan dari setetes air mani, kemudian
berbentuk segumpal darah, lalu menjadi sebentuk daging yang kemudian diberi
kerangka dan tulang-tulang. Dari proses evolusi yang indah tapi unik itu
akhirnya lahirlah menjadi manusia sempurna. Semuanya adalah bukti tentang
existensi dan keagungan Allah SWT sebagai khaliqul alam.
Selanjutnya Qur’an menegaskan bahwa
Allah itulah satu-satunya Zat yang menciptakan jagad raya ini, dan hanya dialah
yang memberikan hukum-hukum, mengatur dan memeliharanya. Andaikata ada Tuhan
selain Allah, maka pastilah langit dan bumi itu hancur binasa. Sebab itu,
mengapa manusia, mengapa manusia menganggap ada Tuhan selain Allah SWT ?
Menurut ajaran Islam, wujud (yang
ada) itu ada dua, yaitu: Allah dan alam, Allah ialah khalik, pencipta alam,
dimana Dia sendiri tidak diciptakan. Existensi Allah adalah wajib, karena itu
Dia adalah “wajibul wujud”, artinya adaNya adalah wajib. Dia tidak mungkin
tidak ada. Tidak adanya Dia itu adalah mustahil. Dia suci dan berbeda dari alam dalam segala hal, “laisa
kamitslihi syaiun.” Ini adalah aqidah Islam dan kaurn
muslimin. Alam ialah makhluk, diciptakan oleh Allah. Tentang existensinya
adalah mungkin saja, artinya boleh ada dan boleh tiada. Sebab itu ia dinamakan
mumkinul wujud. Tapi kenyataannya ia telah ada, karena itu dinamakan pula ia
baru. “Baru” artinya dan tiada ke ada (wujud). Karena alam ini menjadi
kenyataan, maka mestilah ala mini berpermulaan dan takluk sepenuhnya kepada yang
menjadikan dan menyebabkan wujud itu, itulah Dia Allah, Rabbul ‘alamien,
wajibul wujud (Ibid, halaman: 133).
Yang
dimaksud alam dalam ilmu tauhid ialah segala sesuatu yang dapat ditanggap oleh
panca indera kita atau boleh perasaan dan pikiran kita. Dari partikel-partikel
atom sampai kepada bintang-bintang raksasa, yang organis kepada yang anorganis.
Seluruh jagad raya dengan isinya, juga alam dan waktu adalah alam. Alam itu
mempunyai keadaan dan sifat-sifat khas. Pertama, ia takluk kepada hukum
gerak, berubah dan berkembang. Dari tiada lalu ada, dari kecil kepada besar,
dari keadaan lemah menjadi kuat, kemudian kembali lemah lagi, kebenaran yang
diperolehnya nisbi-ingat akan sejarah alam pikiran dan ilmu pengetahuan, dan
akhirnya ia mati dan musnah. Kedua, alam itu dapat disusun atau tersusun
(murakkab), karena ia adalah maddah (materi) dari susunan atom-atom dan
molekul-molekul. Sebab itu pula ia berbentuk atau berwarna dan dapat diarahkan.
Ketiga, alam itu takluk kepada ruang dan waktu (space and time),
walaupun ruang dan waktu itu adalah alam juga. Keempat, alam itu dapat
ditanggap dengan panca indra, perasaan dan pikiran kita (Ibid, halaman:
134).
Semua
keadaan dan sifat-sifat tersebut yang empat, adalah sama sekali suci daripada
keadaandan sifat-sifat Tuhan, Allah SWT. Nilai guna dari pengetahuan kita
tentang keadaan dan sifat-sifat khas alam itu ialah, bahwa segala yang dapat
ditangkap panca indra, dan segala yang berubah adalah tidak kekal, pasti mati
dan musnah. Sebab itui janganlah ia disembah dan dipertuhankan, ia bukan Tuhan.
Demikian pula segala yang takluk kepada ruang dan waktu, ia tidak boleh dipuja
karena ia bukan Tuhan. Maka Tuhan tidak boleh dipatungkan, dipahat, digambar
dan dilukis. Tuhan bukan maddah dan materi. subtansiNya dan sifat-sifatNya
tidak ada satupun persamaanya dengan alam,”Laisa Kamitslihi Syaiun”. Inilah
aqidah islam dan kaum muslimin.
Tuhan
itu ialah Allah SWT. Dia adalah maha esa. Dia esa dalam segala-galanya. Esa
dalam zatNya, artinya tidak ada persamaanya dari seribu satu zat-zat kita kenal
dalam ilmu fisika. Dia maha esa dalam sifat-sifatNya, sebagaimana sifat-sifat
Tuhan yang kekal dalam istilah “sifat dua puluh”. Dia maha esa dalam laku
perbuatanNya, dia maha esa dalam wujudNya, artinya hanya Allah sajalah yang
wajibul wujud, yang lainnya hanya mumkinul wujud. Dia maha esa dalam, menerima
ibadah, dalam manusia berdo’a dan memohon menyampaikan maksud dan kehendakNya.
Akhirnya, dia maha esa dalam memberi hukuman, artinya dialah yang satu-satunya
pemberi hokum yang tertinggi, baik kepada alam semesta yang biasa dikenalan
sebagai hokum alam (law of nature), maupun terhadap hidup dan kehidupan manusia
yang disebut syari’ah. Demikianlah Maha SWT. Tuhan yang maha esa, dia tidak
bersyarikat dengan tiap yang ada. “laa syariika lahu”.
Manfaat
dari pengetahuan kita tentang keEsaan Tuhan ialah manusia tidak menyembah dan
bertuhan selain kepada Allah SWT. Hanya Allahlah yang memiliki kekuasaan dan
kehendak yang tertinggi atas seluruh alam dan manusia. Dia berkuasa memuliakan
dan menghinakan kepada siapa yang dikehendakinya, dia berkuasa memakmurkan atau
menghancurkan suatu negeri yang dikehendakiNya, tak ada suatu kekuatan yang
mampu menghalangi dan menyegah kehendak dan laku perbuatanNya, karena dia maha
kuasa dan maha perkasa. Karena itu, kita harus takwa kepadaNya, segala
pengabdian kepada Allah Semata. Tegasnya, kita tidak boleh punya pikiran lain,
baik secara perorangan maupun secara bersama. Kita harus percaya dan patuh
kepada kebenaran hukum Allah yang disampaikan oelh Nabi Muhammad SAW. Itulah
pandangan hidup dan way of life islam dan kaum muslimin, untuk mempertinggi dan
mempertebal iman kepada Allah SWT, manusia diperintahkan untuk mempelajari alam
semesta, ia laksana kitab penuh khazanah dan hikah terbuka dihadapan kita,
menjadi “aayaatun bayyinah”, bukti-bukti yang terang benerang tentang keesaan
Allah SWT. Kita tidak diperkenalkan memikirkan hakikat subtansi Tuhan, untuk
menghindari kesesatan. Masalah subtansi tuhan adalah di luar batas kemampuan
rasio manusia.
Manusia
dilarang memikirkan hakikat zat Tuhan. Demi penegasan Agama, tetapi logoka juga memahaminya. Manusia sebagai
bagian dari alam amat nisbi, relative sekali sifatnya. Ia dibatasi sekali oleh
ruang dan waktu. Cara berfikirnya, rasionya, logikanya bersifat sama-sama nisbi.
Akalnya yang nisbi hanya sangup berfikir secara dan memikirkan hal-hal yang
relative pula. Dan dari hasil pemikiran akal yang nisbi itu akan nisbi pula
sifatnya, hal ini dilukiskan oleh sejarah filsaafat. Hari ini, akal menganggap
ia mendapat hakikat, untuk esok ditinggalkannya lagi, karena dianggapnya tidak
benar. Akal sebagai bagian dari alam, hanya sanggup memikirkan tentang dan
mengenal alam.
Allah sebagi pencipta alam, mutlak sifatNya, ia mengatasi
ruang dan waktu. subtansiNya, cara berfikir dan logikaNya bersifat mutlak pula,
di sebelah sifat keesaan. Yang nisbi tidak sanggup mengerti (sepenuhnya) yang
mutlak. Pengetahuan dan pengertiannya terhadap yang mutlak itu nisbi pula
sifatnya. Daya yang nisbi adalah nisbi pula. Yang relative itu
hanya sanggup secara penuh memikirkan yang relative pula. Yang mutlak tidak
termakan oleh akalnya seluruhnya. Pengerian yang mutlak hanya sekedar yang
dapat diartikan oleh daya kenisbiaanya. Karena itulah yang nisbi tidak sanggup
mengerti sepenuhnya subtansi yang mutlak, tak sanggup mengajak rasionya, cara
berfikirnya, tak sanggup sepenuhnya membanding logikaNya.
4.
Pengertian dan Macam-macam Takdir
Takdir ada empat macam. Namun, semuanya kembali kepada
takdir yang ditentukan pada zaman azali dan kembali kepada Ilmu Allah yang
meliputi segala sesuatu. Keempat macam takdir tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, Takdir Umum (Takdir Azali). Takdir yang meliputi
segala sesuatu dalam lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan
bumi. Di saat Allah SWT memerintahkan al-Qalam (pena) untuk menuliskan segala
sesuatu yang terjadi dan yang belum terjadi sampai hari kiamat. Hal ini
berdasarkan dalil-dalil berikut ini.
Kedua, Takdir Umuri. Yaitu takdir yang diberlakukan atas
manusia pada awal penciptaannya ketika pembentukan air sperma (usia empat
bulan) dan bersifat umum. Takdir ini mencakup rizki, ajal, kebahagiaan, dan
kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah saw. berikut ini.
Ahli tafsir menyebutkan bahwa pada malam itu dicatat dan
ditulis semua yang akan terjadi dalam setahun, mulai dari kebaikan, keburukan,
rizki, ajal, dan lain-lain yang berkaitan dengan peristiwa dan kejadian dalam
setahun. Hal ini sebelumnya telah dicatat pada Lauh Mahfudz.
Keempat, Takdir Yaumi. Yaitu takdir yang dikhususkan
untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari; mulai dari penciptaan,
rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan
lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah,
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya.
Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahmaan: 29)
Ketiga takdir yang terakhir tersebut, kembali kepada
takdir azali: takdir yang telah ditentukan dan ditetapkan dalam Lauh Mahfudz.
Selain
itu takdir dibagi menjai dua yaitu takdir mubram dan mu’allaq :
a.
Takdir Mubram
Yaitu
takdir Allah yang tidak dapat diubah, tidak dapat memilih serta tidak memiliki
kemampuan untuk mengubahnya. Takdir Mubram ini terdapat pada sunnatullah yang
ada di alam raya ini. salah satu contohnya adalah Kelahiran dan Kematian manusia.
Salah satu contohnya adalah
perjalanan matahari, bulan dan planet-planet lainnya
sesuai dengan ketentuan yang telah
digariskan Allah. Oleh karena itu, sunnatullah tersebut juga terbagi dua yaitu
hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum alam. Dalam AL-Quran surat al- Fushilat
ayat 11 dinyatakan bahwa sekali-kali tidak akan pernah terjadi perubahan pada
sunnatullah.
Contoh: Ada orang yang dilahirkan dengan
mata sipit, atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit
putih dan sebagainya.
b.
Takdir Muallaq
Yaitu
takdir yang dikatkan dengan sesuatu yang lain. Takdir ini dapat diubah dan
manusia diberi akal dan hati nurani untuk memilihnya, karena pada prinsipnya
dalan kehidupan ini, ada sisi-sisi positif dan negatif yang akan selalu mengikuti
perjalanan panjang manusia. Sisi positif dan negatif tersebut disebut dengan
takdir dalam kontek takdir muallaq atau kata lain adalah Nasib.
Contohnya
: Misalnya anda di besarkan dari keluarga tidak mampu,anda ingin merubah
kehidupan keluarga anda, anda berusaha dan berdoa hingga anda mendapatkan apa
yang anda cita citakan memperbaiki kehidupan keluarga anda itulah takdir
muallaq. Kesungguhan dari anda dan anda mau ber Doa memohon Kepada Allah SWT
itulah takdir muallaq.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Kita
yang telah mengenal dan mengetahui keberadaan Allah SWT. Sudah sepatutnya
apabila kita senangtiasa mengabdikan diri secara bulal dan utuh semata-mata
demi mengharapka kerindhoanya.
Salah
satu tanda bagi orang yeng bermakfifat kepada Allah adalah bahwa ia senangtiasa
bersandar dan berserah diri kepada Allah semata. Apapun yang telah dan akan
terjadi pada dirinya selalu diterima dengan baik, apabila dia diberi kenikmatan
ia bersyukur, sedangkan apabila ia mendapat musibah ia terima dengan sabar,
selain itu orang yang bermakrifat kepada Allah tidak pernah menyombongkan diri
sebagai makhluk yang lemah dan tanpa daya, manusia tidak bisa berbuat apa-apa
kecuali atas pertolongan dan izinNya.
Takdir
merupakan ketentuan Allah yang telah di tetapkan dan akan terjadi pada kita
namun takdir dibagi menjadi beberapa macam termasuk takdir yang tidak bias
diubah dan takdir yang bias diubah, selain itu takdir juga dibagi menjadi empat
macam yang pengertianya telah disebutkan.
DAFTAR PUSTAKA
Mufid
Fathul, 2009, Ilmu Tauhid/ Kalam,
Kudus:STAIN Kudus
http://hasanthbisri.blogspot.co.id/2014/03/al-mabda-tauhid.html
http://syiar-muhammad-ilham.blogspot.co.id/2013/05/takdir-mubram-dan-takdir-muallaq.html
http://penyakitrohani.blogspot.co.id/2012/08/macam-macam-takdir.html
0 komentar:
Posting Komentar