Ilmu Fiqih



THAHARAH


 Hasil gambar untuk ilmu fiqih

oleh: M. Wahyu Asshidiqiy


BAB I
PENDAHULUAN
A.                LATAR BELAKANG
Allah itu bersih dan suci. Untuk menemuinya, manusia harus terlebih dahulu bersuci atau disucikan. Allah mencintai sesuatu yang bersih dan suci. Dalam hukum Islam bersuci dan segala seluk beluknya adalah termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting terutama karena diantaranya syarat-syarat sholat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan melaksanakan sholat, wajib suci dari hadas dan suci pula badan, pakaian dan tempatnya dari najis. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari sesuatu (barang) yang kotor dan najis sehingga thaharah dijadikan sebagai alat dan cara bagaimana mensucikan diri sendiri agar sah saat menjalankan ibadah.
Dalam hukum islam soal bersuci dan segala seluk beluknya adalah termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting; terutama karena diantara syarat syarat sembahyang telah di tetapkan bahwa seseorang yang akan mengerjakan ibadah wajib suci dari hadats dan suci pula badan, pakaian dan tempatnya dari najis.

B.                 RUMUSAN MASALAH
1.                  Apa yang dimaksud dengan thaharah?
2.                  Apa perbedaan antara najis dengan hadats?
3.                  Sebutkan macam macam najis dan hadats?
4.                  Bagaimana cara membersihkan hadats dan najis?
5.                  Apa arti penting dari thaharah?
6.                  Sebutkan problematika thaharah?







BAB II
PEMBAHASAN
1.                  Pengertian Thaharah
Thaharah menurut bahasa ialah bersih dan bersuci dari segala kotoran, baik yang nyata seperti najis, maupun yang tidak nyata seperti aib. Menurut istilah para fuqahaa’ berarti membersihkan diri dari hadas dan najis, seperti mandi berwudlu dan bertayammum. (Saifuddin Mujtabaa, 2003:1)
Suci dari hadas ialah dengan mengerjakan wudlu, mandi dan tayammum. Suci dari najis ialah menghilangkan najis yang ada di badan, tempat dan pakaian.
Urusan bersuci meliputi beberapa perkara sebagai berikut:
a.       Alat bersuci seperti air, tanah, dan sebagainya.
b.      Kaifiat (cara) bersuci.
c.       Macam dan jenis-jenis najis yang perlu disucikan.
d.      Benda yang wajib disucikan.
e.       Sebab-sebab atau keadaan yang menyebabkan wajib bersuci.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
اِنَّ اللّه يُحِبُّ التَّوَّا بِينَ و يُحِبُّ المُتَطَهِّرِينَ    البقرة ….

Artinya:
…..Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang bertaubat dan Ia mencintai orang orang yang bersuci (bersih, baik dari kotoran jasmani ataupun kotoran rohani).  (QS. 2:222)
Adapun thaharah dalam ilmu fiqh ialah:
a.       Menghilangkan najis.
b.      Berwudlu.
c.       Mandi.
d.      Tayammum.

Alat yang terpenting untuk bersuci ialah air. Jika tidak ada air maka tanah, batu dan sebagainya dijadikan sebagai alat pengganti air.
Air yang dapat dipergunakan untuk bersuci ada tujuh macam:
1.      Air hujan.
2.      Air sungai.
3.      Air laut.
4.      Air dari mata air.
5.      Air sumur.
6.      Air salju.
7.      Air embun.

Air tersebut dibagi menjadi 4, yaitu :
a)      Air mutlak (air yang suci dan mensucikan), yaitu air yang masih murni, dan tidak bercampur dengan sesuatu yang lain.
Sebagaimana firman Allah dalam Alqur’an:
وَيُنَزِّلُّ عَلَيكُم مِنَ السَّمَآء مَآءً لِيُطَهِّرَكُم بِه
Artinya:
“Dan diturunkannya air bagimu dari langit, supaya kamu bersuci dengan dia” (Al anfal: 11)
b)      Air musyammas (air yang suci dan dapat mensucikan tetapi makhruh digunakan), yaitu air yang dipanaskan dengan terik matahari di tempat logam yang bukan emas.
c)      Air musta’mal (air suci tetapi tidak dapat mensucikan), yaitu air yang sudah digunakan untuk bersuci.
d)     Air mutanajis (air yang najis dan tidak dapat mensucikan), yaitu air telah kemasukan benda najis atau yang terkena najis. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
المَاءُ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيءٌ إلاَّ غَلَبَ عَلَى طَعَمِهِ او لَونِهِ أو رِيحِهِ    رواه ابن ماجه والبيهقي
Artinya:
“Air itu tak dinajisi sesuatu, kecuali apabila berubah rasanya atau warnanya atau baunya.” (Riwayat Ibnu majah dan Baihaq)


2.                  Perbedaan Antara Najis dan Hadats
a.                   Najis
Najis menurut bahasa ialah apa saja yang kotor, baik jiwa, benda maupun amal perbuatan. Sedangkan menurut fuqaha’ berarti kotoran (yang berbentuk zat) yang mengakibatkan sholat tidak sah.
Allah berfirman dalam Alqur’an yang berbunyi:
حُرِّمَت عَلَيكُمُ المَيتَةُ وَالدَّمُ وَ لَحمُ الخِنزِيرُ       المائده ٣
Artinya:
“Diharamkan atas kamu memakan bangkai, darah dan daging babi” (al
maidah: 3)

   Benda-benda yang termasuk najis:
a)      Bangkai (kecuali bangkai ikan dan belalang)
b)      Darah
c)      Babi
d)     Khamer dan benda cair apapun yang memabukkan
e)      Anjing
f)       Kencing dan kotoran (tinja) manusia maupun binatang
g)      Susu binatang yang haram dimakan dagingnya
h)      Wadi dan madzi
i)        Muntahan dari perut

b.                  Hadats
Hadas menurut syara adalah perkara yang dianggap mempengaruhi anggora-anggota tubuh sehingga menjadikan sholat dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sehukum dengannya tidak sah karenanya, karena tidak ada sesuatu yang meringankan


3.                  Macam-macam Hadats dan Najis
a.                   Macam-macam Najis
       Najis dibagi menjadi 3 bagian:
1)      Najis mukhaffafah (ringan), ialah air kencing bayi laki-laki yang belum berumur 2 tahun dan belum pernah makan sesuatu kecuali ASI.Cara mensucikannya, cukup dengan memercikkan air ke bagian yang terkena najis sampai bersih.
2)      Najis mutawassithah (sedang), ialah najis yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang, kecuali air mani.
Najis ini dibagi menjadi dua:
a.       Najis ‘ainiyah, ialah najis yang berwujud atau tampak.
b.      Najis hukmiyah, ialah najis yang tidak tampak seperti bekas kencing atau arak yang sudah kering dan sebagainya.
Cara mensucikannya, dibilas dengan air sehingga hilang semua sifatnya (bau, warna, rasa dan rupanya)
3)      Najis mughallazah (berat), ialah najis anjing dan babi.Cara mensucikannya, lebih dulu dihilangkan wujud benda najis itu, kemudian dicuci dengan air bersih 7 kali dan salah satunya dicampur dengan debu.

    Najis yang dimaafkan
a)      Bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir seperti nyamuk, kutu, dan sebagainya.
b)      Najis yang sangat sedikit.
c)      Darah bisul dan sebangsanya.
d)     Kotoran binatang yang mengenai biji-bijian yang akan ditebar, kotoran binatang ternak yang mengenai susu ketika diperah.
e)      Kotoran ikan d dalam air.
f)         Darah yang mengenai tukang jagal.
g)          Darah yang masih ada pada daging.



c.                   Macam-macam Hadats
.           Hadas dibagi menjadi dua :
1)      Hadas kecil, adalah perkara-perkara yang dianggap mempengaruhi empat anggota tubuh manusia yaitu wajah, dua tangan dan dua kaki. Lalu menjadikan sholat dan semisalnya tidak sah. Hadas kecil ini hilang dengan cara berwudlu.
2)      Hadas besar, adalah perkara yang dianggap mempengaruhi seluruh tubuh lalu menjadikan sholat dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sehukum dengannya tidak sah. Hadas besar ini bisa hilang dengan cara mandi besar.


4.                  Cara Membersihkan Hadats dan Najis
a)   Hadats
b)   Najis


5.                  Arti Penting Dari Thaharah
a)      Thaharah termasuk tuntutan fitrah.
b)      Memelihara kehormatan dan harga diri orang Islam.
c)      Memelihara kesehatan.
d)     Menghadap Allah dalam keadaan suci dan bersih.
e)      Thaharah berfungsi menghilangkan hadas dan najis juga berfungsi sebagai penghapus dosa kecil dan berhikmah membersihkan kotoran indrawi.


6.                  Problematika Thaharah


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar