Sejarah Teks Al-Qur'an



 MUSHAF UBAY BIN KA'AB










Hasil gambar untuk MUSHAF UBAY BIN KAAB






oleh: M. Wahyu Asshidiqiy












BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al-Qur’an paling umum diterjemahkan sebagai bacaan atau tilawah (bacaan yang dilantunkan), dan telah dihubungkan secara etimologi dengan qeryana (bacaan kitab suci, bagian dari kitab suci yang dibacakan dalam ritual keagamaan). Dalam bahasa suriah, dan miqra’ dalam bahasa Ibrani (pembacaan suatu kisah, kitab suci). Sebagian mufasir berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari bentuk fu’lan, Qura’an membawa konotasi “bacaan sinambung” atau “bacaan abadi”, yang dibaca dan didengar beulang-ulang.[1]
Dalam tenggang waktu sekitar 20-an tahun, mulai dari wafatnya Nabi Saw sampai pengumpulan al-Qur’an di masa Utsman, hanya sekitar empat mushaf sahabat yang berhasil memapankan pengaruhnya di kalangan masyarakat. Asal-muasal pengaruh initentunya terpulang kepada individu-individu yang dengan namanya mushaf-mushaf itudikenal. Keempat sahabat Nabi Saw yang dimaksud di sini adalah: (1) Ubay bin Ka‘ab,yang kumpulan al-Qur’annya berpengaruh di sebagian besar daerah Syiria; (2) Abdullah bin Mas‘ud, yang mushafnya mendominasi daerah Kufah; (3) Abu Musa al-Asy‘ari, yangmushafnya memperoleh pengakuan masyarakat Bashrah; dan (4) Miqdad bin Aswad (w.33H), yang mushafnya diikuti penduduk Kota Hims.[2]
Sebelum mushaf yang dimunculkan oleh utsman, terdapat beberapa mushaf-mushaf yang lain, diantaranya mushaf ibn Mas’ud, Ubay bin Ka’ab dan lain sebgainya. Pada pembahasan ini penulis lebih memperdalam tentang mushaf Ubay bin Ka’ab.




B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana riwayat hidup Ubay bin Ka’ab
2.      Bagaimana susunan mushaf Ubay bin Ka’ab


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Riwayat Hidup Ubay bin Ka’ab
Dia termasuk sahabat Nabi dari kalangan anshar (yaitu penduduk kota Madinah), ahli dalam al-Qur’anul Karim, ikut serta dalam bai’at aqobah dan perang Badar. Nama kunyahnya adalah Abu Mundzir al-Anshari dan Abu at-Tufail. Adapun nama lengkapnya adalah Ubay bin Ka’ab bin Qais bin Ubaid, dari kabilah Bani Amru bin Malik bin an-Najjar dari suku Khazraj. Ubay menguasai ilmu tulis menulis sehingga Nabi menunjuknya sebagai salah satu dari sekretaris beliau. Ia merupakan salah seorang yang mengkhususkan diri dalam mengumpulkan wahyu dan merupakan salah satu diantara empat sahabat yang disarankan Nabi agar umat Islam mempelajari Al-qur’an darinya.[3]
Menegnai bentuk fisik Ubay bin Ka’ab para sahabat berpendapat, diantaranya: Isa bin Thalhah bin Ubaidillah berkata : Ubay bin Ka’ab adalah seorang yang tidak tinggi dan tidak pendek. Ibnu Abbas bin Sahl berkata : Ubay bin Ka’ab rambut dan jenggotnya berwarna putih. Abu Nadhrah al-Abdi berkata : salah seorang di antara kita yang bernama Jabir atau Juwaibir bercerita : Aku pernah meminta suatu hajat kepada Umar bin al-Khottob radhiyallahuanhu dan di samping Umar ada seseorang yang berpakaian putih, demikian pula rambutnya berwarna putih, orang itu berkata : “Sesungguhnya dunia adalah pencapaian kita, dan bekal bagi kita menuju akhirat, di dunia ini amal-amal kita lakukan, dan kelak di akhirat akan dibalas.” Lalu aku bertanya kepada Umar : “Siapa dia wahai Amirul mukminin?” Dia menjawab : “Dia adalah tokoh kaum muslimin, dia adalah Ubay bin Kaab”.[4]

B.     Susunan Mushaf Ubay bin Ka’ab
Dalam kaitannya dengan susunan surat terdapat perbedaan yang relatif kecil antara mushaf Ubay dengan mushaf Utsmani, sebagaimana bisa disimak dalam dalam dua laporan tentang susunan suratnya. Laporan pertama dikemukakan dalam Fihrts, dan laporan kedua diungkapkan dalam itqan[5]. Susunan surat-surat dalam mushaf ubay dapat dikemukakan sebagai berikut:
No
Susunan Surat Menurut Fihrits

Susuna Surat Menurut Itqan


Nama Surat
No. Surat
Nama Surat
No. Surat
1
Al-fatihah
1
Al-fatihah
1
2
Al-baqorah
2
Al-baqorah
2
3
An-nisa’
4
An-nisa’
4
4
Ali imran
3
Ali imran
3
5
Al-anam
6
Al-anam
6
6
Al-a’raf
7
Al-a’raf
7
7
Al-maidah
5
Al-maidah
5
8
Yunus
10
Yunus
10
9
Al-anfal
8
Al-anfal
8
10
Al-taubah
9
Al-taubah
9
11
Hud
11
Hud
11
12
Maryam
19
Maryam
19
13
Al-syu’ara
26
Al-syu’ara
26
14
Al-hajj
22
Al-hajj
22
15
Yusuf
12
Yusuf
12
16
Al-kahfi
18
Al-kahfi
18
17
Al-nahl
16
Al-nahl
16
18
Al-ahzab
33
Al-ahzab
33
19
Al-isra’
17
Al-isra’
17
20
Al-zumar
39
Al-zumar
39
21
Al-jatsiyah
45
Fushilat atau al-zuhruf
41 atau 43
22
Tha-ha
20
Tha-ha
20
23
Al-anbiya’
21
Al-anbiya’
21
24
An-nur
24
An-nur
24
25
Al-mu’minun
23
Al-mu’minun
23
26
Al-mu’min
40
Saba’
34
27
Al-ra’d
13
Al-ankabut
29
28
Al-qashash
28
Al-mu’min
40
29
Al-naml
27
Al-ra’d
13
30
Al-shaffat
37
Al-qashash
28
31
Shad
38
An-naml
27
32
Ya sin
36
Al-shaffat
37
33
Al-hijr
15
Shad
38
34
Al-syu’ara
42
Ya sin
36
35
Al-rum
30
Al-hijr
15
36
Al-zukhruf
43
Al-syu’ara
42
37
Fushilat
41
Al-rum
30
38
Ibrahim
14
Al-hadid
57
39
Fathir
35
Al-fath
48
40
Al fatih
48
Muhammad
47
41
Muhammad
47
Al-mujadalah
58
42
Al-hadid
57
Al-mulk
67
43
Al-thur
52
Al-shaf
61
44
Al-furqan
25
Al-ahqaf
46
45
Al-sajdah
32
Qaf
50
46
Nuh
71
Ar-rahman
55
47
Al-ahqaf
46
Al-waqiah
56
48
Qaf
50
Al-jin
72
49
Al-rahman
55
Al-najm
53
50
Al-waqiah
56
Al-ma’arij
70
51
Al-jin
72
Al-muzammil
73
52
Al-najm
53
Al-muddatsir
74
53
Al-qalam
68
Al-qamar
54
54
Al-haqqah
69
Fushilat atau al-zukhruf
41 atau 43
55
Al-hasyr
59
Al-dukhan
44
56
Al-muhtahanah
60
Luqman
31
57
Al-mursalah
77
Al-jatsiyah
45
58
Al-naba’
78
Al-thur
52
59
Al-insan
76
Al-dzariyat
51
60
Al-qiyamah
75
Al-haqqah
69
61
Al-takwir
81
Al-hasyr
59
62
Al-nazi’at
79
Al-mumtahanah
60
63
Abasa
83
Al-mursalat
77
64
Al-muthaffifin
80
Al-naba’
78
65
Al-insyiqaq
83
Al-insan
76
66
Al-tin
84
Al-qiyamah
75
67
Al-‘alaq
95
Al-takwir
81
68
Al-hujurat
96
Al-nazi’at
79
69
Al-munafiqun
49
Abasa
80
70
Al-jumu’ah
63
Al-muthaffifin
83
71
At-tahrim
62
Al-insyiqaq
84
72
Al-fajr
66
Al-tin
95
73
Al-mulk
89
Al-‘alaq
96
74
Al-layl
67
Al-hujurat
49
75
Al-infithar
92
Al-munafiqun
63
76
Al-syams
82
Al-jumu’ah
62
77
Al-buruj
91
Al-tahrim
66
78
Al-thariq
85
Al-fajr
89
79
Al-a’la
86
Al-balad
90
80
Al-ghasyiyah
87
Al-layl
92
81
Al-muddatsir
88
Al-infithar
82
82
Al-bayyinah
74
Al-syams
91
83
As-shaff
98
Al-buruj
85
84
Ad-dhuha
61
Al-thariq
86
85
Alam nasyrah
93
Al-a’la
87
86
Al-qari’ah
94
Al-ghasyiyyah
88
87
Al-takatsur
101
Al-shaf
61
88
Al-khal ( 3 ayat )
Surat ekstra
Al-taghabun
64
89
Al-hafd ( 6 ayat )
Surat ekstra
Al-bayyinah
98
90
Al-humazah
104
Al-dhuha
93
91
Al-zalzalah
99
Alam nasyrah
94
92
Al-fil
105
Al-qari’ah
101
93
Al-ma’un
107
Al-takatsur
102
94
Al-kautsar
108
Al khal ( 3 ayat )
Surat ekstra
95
Al-qadr
97
Al-hafd ( 6 ayat )
Surat ekstra
96
Al-kafirun
109
Al-humazah
104
97
Al-nashr
110
Al-zalzalah
99
98
Al-lahab
111
Al-adiyat
100
99
Quraisy
106
Al-fil
105
100
Al-ikhlash
112
Quraiys
106
101
Al-falaq
113
Al-ma’un
107
102
Al-nas
114
Al-kautsar
108
103


Al-qadr
97
104


Al-kafirun
109
105


Al-nasr
110
106


Al-ikhlas
112
107


Al-falaq
113
108


Al-nas
114

Ada perbedaan dalam susunan surat antara mushaf Ubay dan mushaf Utsmani. Ibn al-Nadim dalam al-Fihrist melaporkan mushaf Ubay berjumlah 116 surat. Tetapi Ibn al-Nadim tidak menuliskan 14 surat, sehingga yang ada dalam daftarnya hanya berjumlah 102. sementara itu, dalam al-Itqan dilaporkan jumlahnya 115 surat, karena surat al-Fil dan Quraisy atau surat al-Dluha dan surat al-Insyirah dijadikan satu. Sebagaimana al-Fihrist, daftar tartib surat dalam al-Itqan juga tidak lengkap. Ada 8 surat yang tidak tercantum dalam al-Itqan; yaitu al-Muddatssir, al-Furqan, al-Sajdah, Fathir, al-Qalam, al-Insan, al-Buruj, dan al-Masad. Di samping ittu, ada dua surat ekstra dalam mushaf Ubay, yang disebut dengan surat al-Khal’ ( 3 ayat) dan surat al-Hafd (6 ayat). Kedua surat ini tidak dapat disebut bagian dari al-quran, hal ini dapat dilihat lewat kosa kata non-quranik, di samping kedua surat ini tidak dibaca kecuali dalam doa qunut saja. Dengan demikian maklum diketahui jumlah surat mushaf Ubay berjumlah 116, bukan 114. Ada yang berbeda pendapat juga tentang penyusunan dari mushaf Ubay bin Ka’ab yaitu dimulai dari surat Al-Baqarah, An-Nisa’ dan Ali Imran[6].



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Susunan surat dalam mushaf Ubay – sekalipun dengan sejumlah perbedaan yang relatif cukup besar jika dibandingkan dengan mushaf utsmani- secara garis besarnya memperlihatkan prinsip yang umumnya dipegang dalam penyusunan tata urutan surat dalam mushaf-mushaf Al-qur’an yang awal, termasuk mushaf utsmani, yakni: mulai dari surat-surat yang lebih pendek.





DAFTAR PUSTAKA
Amir Faishal Fath, 2010, The Unity of Al-Qur’an, terj.Nasirudin Abbas, (Pustaka Al-Kautsar: Jakarta Timur)
A. Jeffery, 1937, Materials For The History Of The Texs Of The Qur’an, (Leiden: E. J. Briil,)
Mukni’ah, 2011, Materi Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)
Taufik Adnan Amal, 2005, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Alvabet)


[1] Mukni’ah. Materi Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 201
[2] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), hlm. 185.
[3] Ibid, hlm. 186
[4] HR Ibnu Sa’ad (as-Siyar hal 392)
[5] A. Jeffery, Materials For The History Of The Texs Of The Qur’an, (Leiden: E. J. Briil, 1937) hlm. 115
[6] Amir Faishal Fath, The Unity of Al-Qur’an, terj.Nasirudin Abbas, (Pustaka Al-Kautsar: Jakarta Timur, 2010), hlm. 58

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar