Metode Pengertian kebenaran



METODE PENGERTIAN KEBENARAN





Hasil gambar untuk filsafat ilmu





 Oleh: M. Wahyu Asshidiqiy

BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang merefleksi mengenai hakikat ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu dalam arti luas menampung permasalahan yang menyangkut hubungan ke luar dari kegiatan ilmiah. Filsafat ilmu dalam arti sempit menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan ke dalam yang terdapat di dalam ilmu yaitu yang menyangkut sifat pengetahuan ilmiah, dan cara cara mengusahakan serta mencapai pengetahuan ilmiah. Filsafat ilmu merupakan penerus dalam pengembangan filsafat pengetahuan, sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah a higher level dalam rangka perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita terapkan dalam kehidupan sehari hari. [1]
Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, namun masalahnya tidak hanya sampai itu saja. Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistemologi. Telaah epistemologi terhadap ”kebenaran”membawa orang kepada sesuatu kesimpulan bahwa perlu dibedaka adanya tiga jenis kebenaran, yaitu kebenaran epistemologi, ontologis, semantis.  [2]
Sedangkan untuk menentukan kebenaran suatu pengetahuan ada tiga teori, yaitu teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatisme. Teori kebenaran baik koherensi maupun korespondensi keduanya dipergunakan pada proses penalaran teorestis yang didasarkan pada logika deduktif. Sedangkan teori korespondensi digunakan untuk proses pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan data data yang mendukung suatu pernyataan tertentu yang telah dibuat sebelumnya. Dan teori pragmatisme dipergunakan para ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dilihat dalam prespektif waktu.[3]


B.     Rumusan Masalah
1.                  Apa pengertian kebenaran
2.                  Bagaimana cara menemuakan keenaran



BAB II
PEMBAHASAN

1.                  Pengertian kebenaran
Secara umum definisi yang standar mengenai kebenaran diartikan sebagai kesesuaian antara pikiran dan kenyataan. Dalam aliran pragmatisme, mengemukakan bahwa yang dimaksud kebenaran adalah apa yang membawa hasil, suatu pertimbangan itu dikatakan “benar” jika mencapai hasil yang berguna. Sebaliknya, pertimbangan itu “salah” jika dengannya menghasilkan hal yang merugikan.[4]
Poedjawiyatna mengemukakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.[5]
Kebenaran Ilmiah, yaitu kebenaran yang terbangun/diperoleh berdasarkan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah. Kebenaran ilmiah ini dapat ditemukan dan diuji dengan pendekatan pragmatis, koresponden, dan koheren.[6]
Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang di sebut  benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Karena itu, kegiatan berfikir adalah usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu atau kriteria kebenaran. Pada setiap jenis pengetahuan tidak sama kriteria kebenarannya karena sifat dan watak pengetahan itu berbeda. Pengetahuan tentang metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik. Alam fisik pun memiliki perbedaan ukuran kebenaran bagi setiap jenis dan bidang pengetahuan. [7]



2.                  Cara menemukan kebenaran
Dalam penggunaan kata “pengetahuan” dan “ilmu” dari apa yang kita tangkap dalam jiwa kita harus berhati-hati. Pengetahuan sudah puas dengan “menangkap tanpa ragu” kenyataan sesuatu, sedang ilmu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari sekedar apa yang di tuntut oleh pengetahuan. [8]
Manusia akan puas apabila ia dapat memperoleh pengetahuan mengenai apa yang dipermasalahkan dan lebih puas lagi apabila pengetahuan yang diperoleh adalah pengethuan yang benar ( Cholid Narkubo dan Abu Ahmadi,1997). Untuk dapat memperoleh pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua cara yang dapat di tempuh oleh manusia yaitu dengan cara non ilmiah dan cara ilmiah. Menurut ahli filsafat pengetahuan yang benar pada mulanya diperoleh melalui cara non ilmiah di banding cara ilmiah, hal ini disebabkan oleh keterbatasan daya pikir manusia.
Pendekatan ilmiah menuntun dilakukannya cara cara tau langkah langkah tertentu dengan perurutan tertentu pula agar dapat dicapai pengetahuan yang benar. Namun, tidak semua orang suka melewati tata tertib pendekatan ilmiah itu untuk sampai pada pengetahuan yang benar mengenai hal yang dipertanyakan. Bahkan di kalangan masyarakat awam untuk memperoleh pengetahuan yang benar lebih baik suka menggunakan pendekatan non ilmiah.
a.                   Cara penemuan kebenaran non ilmiah
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kebenaran melalui cara nonilmiah, diantaranya adalah :
1.                  Akal sehat
2.                  Prasangka
3.                  Pendekatan intuisi
4.                  Penemuan keetulan dan coba coba
5.                  Pendekatan otoritas ilmiah dan pikiran kritis[9]
Untuk lebih jelasnya dari beberapa pendekatan non ilmiah tersebut satu peratu dapat diuraikan sebagai berikut:
a)                  Akal sehat (common sence)
Akal sehat menurut counout yang dikutip kerlinger(1973) adalah serangkaian konsep dan bagan yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi manusia. konsep adalah pernyataan abtraksi yang digeneralisasikan dan hal hal yang khusus. Bagan konsep adalah seperangkat konsep yang dirangkaikan dengan dalil dalil hipotesis dan teori walaupun akal sehat yang berupa konsep dan bagan konsep itu dapat menunjukkan hal yang benar, namun dapat menyesatkan. Sebagai contoh, pada abad ke 19 meurut akal sehat yang diyakini oleh banyak pendidik ialah bahwa hukuman adalah alat utama dalam pendidikan. Tetapi ternyata penemuan ilmiah membantah kebenaran akal tersebut. Pada umumnya akal sehat banyak digunakan oleh orang awam dalam mempersoalkan sesuatu.

b)                  Prasangka
Penemuan pengethuan yang dilakukan melalui akal sehat kebanyakan diwarnai oleh kepentinagan oleh orang yang melakukannya. Hal ini menyebabkan akal sehat mudah berubah menjadi prasangka. Orang sering tidak mampu mengendalikan keasaan yang juga dapat terjadi pada keadaan yang lain. Ia seringkali cenderung malihat hubungan sebab akibat yang langsung dan sederhana. Dengan akal sehat orang cenderung ke arah perbuatan generalisasi yang terlalu dipaksakan, sehingga hal itu menjadi suatu prasangka

c)                  Pendekatan intuitif
Dalam pendekatan intuitif orang menentukan pendapat mengenai sesuatu hal yang berdasarkan atas “pengetahuan” yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses yang tidak disadari atau tidak dipikirkan terlebih dahulu. Dengan intuitif orang memberi penilaian tanpa didahului kesuatu renungan. Pencapaian pengetahuan semacam itu kebenarannya sukar dipercaya. Metode semacam itu biasanya disebut dengan “apriori”. Dalil dalil yang diperoleh dari apriori mungkin cocok dengan penalaran, nemun belum cocok dengan pengalaman atau data empiris.
d)                 Penemuan kebetulan dan coba coba
Penemuan secara kebetulan dan coba coba banyak, diantaranya yang sangat berguana. Penemuan secara kebetulan diperoleh tanpa direncana, tidak pasti, dan melalui langkah langkah yang sistemati dan terkendali. Penemuan kebetulan dan coba coba merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa kepastian akan diperoleh suatu kondisi tertentu atau pemecahan masalah. Pemecahan masalah terjadi secara kebetulan biasanya tidak efisien dan tidak terkontrol. Contoh percobaan pavlov terhadap gorila yang ada didalam sangkarnya, di dalam sangkar gorila diberi tongkat dan di luar sangkar ditaruh pisang. Karena selera gorila ingin meraih pisang tersebut, kemudian ia mencoba coba menggunakan tongkat yang ada di sampingnya. Dengan usaha coba coba itu akhirnya pisang yang berada diluar sangkar dapat diraih.
e)                  Pendapat otoritas ilmiah dan pikiran ilmiah
Otoritas ilmiah biasanya dapat diperoleh seseorang yang telah menempuh pendidikan formal tertinggi, misalnya Doktor atau seseorang yang mempunyai pengalaman profesional atau kerja ilmiah dalam suatu bidang cukup banyak (seorang profesor). Pendapat mereka biasanya sering diterima tanpa harus di uji, karena di pandang benar apa yang mereka katakan. Namun, pendapat otoritas ilmiah tidak selamanya benar, bila pendapat dikemukakan tersebut tidak didasararkan pada hasil penelitian, namun hanya didasarkan pada pikiran logis semata.


b.                  Cara Penemuan Kebenaran Ilmiah
Pengetahuan yang di peroleh melalui pendekatan ilmiah berupa kegiatan penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori teori tertentu. Kita semua mengetahui bahwa teori berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data data empiris yang ditemukan dapat diuji keajekan dan kejituan internalnya. Artinya, jika penelitian ulang dilakukan langkah langkah serupa pada kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang sama atau hampir sama. Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan serupa bagi hampir setiap orang. Karena pendekatan tersebut tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi maupun oleh perasaan, dan cara penyimpulannya objektif bukan subjektif.
Dengan pendekatan ilmiah itu orang berusaha untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan benar yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya. Cara ilmiah ini merupakan syarat mutlak untuk menemukan suatu ilmu, yang dapat berfikir secara ilmiah, maka ada tiga tahapan berfikir yang harus di lalui, yaitu: skeptik, analitik dan kritis.
1)                  Skeptik
Ciri berfikir ilmiah yang pertama ini ditandai oleh cara orang di dalam menerima kebenaran informasi atau pengetahuan tidak langsung di terima begitu saja, namun dia berusaha untuk menanyakan fakta fakta atau bukti bukti terhadap setiap pernyataan yang diterimanya.
2)                  Analitik
Ciri berfikir ilmiah yang kedua di tandai oleh cara orang dalam melakukan setiap kegiatan, ia selalu berusaha menimbang nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang elevan, dan mana yang masalah utama dan sebagainya. Dengan cara ini maka jawaban terhadap permasalahan yang di hadapi akan dapat di peroleh sesuai dengan apa yang diharapkan.
3)                  Kritis
Ciri berfikir ilmiah yang ketiga ditandai dengan orang yang selalu berupaya mengembangkan kemampuan menimbang setiap permasalahan yang dihadapinya secara objektif. Hal ini dilakukan agar semua data dan pola pikir yang di terapkan dapat logis.[10]
BAB III
KESIMPULAN

Kebenaran merupakan suatu pemikiran yang sesuai dengan kenyataannya, untuk memperoleh suatu pemikiran atau pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan atau bisa disebut dengan kebenaran, manusia harus menggunakan dua cara, yaitu cara non ilmiah dan ilmiah. Tetapi menurut para ahli filsafat pengetahuan yang benar diperoleh dengan cara non ilmiah di banding cara ilmiah, itu disebabkan keterbatasan daya pikir manusia
Untuk dapat memperoleh pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua cara yang dapat di tempuh oleh manusia yaitu yang pertama adalah cara penemuan kebenaran non ilmiah dan cara penemuan ilmiah.
Ada beberapa cara dalam penemuan kebenaran non ilmiah, yaitu menggunakan akal sehat, prasangka, pendekatan intuisi, penemuan kebetulan dan coba coba, serta pendapat otoritas ilmiah dan pikiran ilmiah. Penemuan  kebenaran ilmiah juga memiliki cara, diantaranya skeptik, analitik dan kritis.










DAFTAR PURSTAKA
Anshari, Endang Saifudin. 1987. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya: Bina ilmu.
Aholiab watholy. 2001. Tanggung jawab pengetahuan, Yogyakarta: kanisius.
Drs. H.A fuad Ihsan, 2010, filsafat ilmu, Jakarta: Rineka Cipta.
I.R. Poedjawijatna, 1987, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke IImu dan Filsafat, Jakarta: Bina Aksara.
Kasmadi, Hartono.dkk. 1995. Filsafat Ilmu. Semarang: IKIP Semarang Pers.
Prof.DR.amsal bakhtiar, M.A, 2002, filsafat ilmu, Jakarta: PT raja grafindo persada.
Suparlan Suhartono, Ph.D Dasar-dasar Filsafat.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2003, Filsafat Ilmu, Liberty: Yogyakarta.




[1] Drs. H.A fuad Ihsan,filsafat ilmu(jakarta : Rineka Cipta,2010) hlm,1
[2] Aholiab watholy, tanggung jawab pengetahuan, (yogyakarta : kanisius, 2001) cet ke 5, hlm. 157.
[3] Drs. H.A fuad Ihsan,filsafat ilmu(jakarta : Rineka Cipta,2010) hlm,134
[4] Suparlan Suhartono,Ph.D Dasar-dasar Filsafat hlm. 95
[5] I.R. Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke IImu dan Filsafat (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hal. 16.
[6] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu (Liberty: Yogyakarta, 2003),  hal.136.
[7] Prof.DR.amsal bakhtiar,M.A. FILSAFAT ILMU, (JAKARTA: PT raja grafindo persada,2002) hlm. 111
[8] Drs. H.A fuad Ihsan,filsafat ilmu(jakarta : Rineka Cipta,2010) hlm,136

[9] Drs. H.A fuad Ihsan,op.cit hlm,137

[10] Drs. H.A fuad Ihsan,op.cit hlm,138-139
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar